"Ada pahlawan relawan, yang rela memberi waktu dan tenaga bahkan jiwa untuk menyelamatkan saudara-saudara mereka," kata Boediono saat bertatap muka dengan WNI yang tinggal di Jepang di KBRI Tokyo, Jepang, Minggu (14/11/2010).
"Mereka tidak banyak bicara, tidak banyak berkomentar. Namun, mereka bekerja dengan luar biasa. Kita pantas memberikan apresiasi," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lain sisi, sambung Wapres, ia juga menyaksikan ketabahan masyarakat korban letusan Gunung Merapi yang sedang dirundung bencana selama beberapa pekan terakhir. Selain tetap tegar, mereka masih menyimpan kepercayaan akan hari esok yang lebih baik.
Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini, berdasarkan laporan dari otoritas yang meneliti Merapi, belum diketahui kapan gunung teraktif di dunia itu akan berhenti bererupsi. Letusan Merapi kali ini memang lebih besar dari tahun sebelumnya, bahkan dari letusan dahsyat pada tahun 1872.
"Tahun itu (1972) 5 hari selesai, tapi ini seminggu belum selesai dan masih berlanjut. Jadi tanggap darurat akan terus dilakukan, terus memantau, dengan harapan lebih baik lagi suasananya," tutup Boediono.
Boediono berkunjung ke Jepang dalam rangka menghadiri penutupan KTT APEC ke-21 yang dihelat di Yokohama. Ia menggantikan keikutsertaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang harus kembali lebih cepat karena memantau penanganan bencana di tanah air. Wapres bersama Ibu Herawati dan rombongan mendarat di Bandara Narita, 60 Km dari Yokohama, pada pukul 09.16 waktu setempat.
Ia dijadwalkan berada di Jepang hingga Rabu 17 November mendatang. Boediono ingin melihat sistem transportasi di Jepang yang sudah maju. Selain itu, ia ingin mengetahui manajemen bencana yang sudah teruji dengan baik di negeri sakura tersebut. Wapres akan tiba di Jakarta pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB.
(irw/rdf)











































