Anggota Komisi X dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ menilai perlu ada program Training of Trainer tentang kejiwaan dari pemerintah untuk para relawan, utamanya tenaga kesehatan di puskesmas. Lewat program ini diberikan pengetahuan kesehatan jiwa sesuai dengan ketentuan dan draft kementerian kesehatan.
"Nanti setelah masa tanggap darurat selesai dan relawan pulang menjadi tugas puskesmas untuk melakukan pendampingan. Selama ini puskesmas masih lalai dalam hal penanganan kejiwaan itu," kata dr Nova saat meninjau pengungsi di Desa Pucungrejo Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (13/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Kadir Karding pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, juga perlu menerjunkan tim yang terdiri dari para ahli agama, untuk memberikan pencerahan sekaligus motivasi hidup.
"Sayangnya sejauh ini kita belum melihat peranan dari Kementerian Agama dalam penanganan pengungsi. Padahal Menteri Agama bukan menteri haji, ia juga harus turun ke lokasi bencana," sindir Karding.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah Djarot Nugroho membenarkan adanya sejumlah pengungsi yang sudah masuk RSJ. Banyak hal yang membuat pengungsi mudah mengalami depresi. Selain
trauma akan letusan, mereka juga tertekan secara kejiwaan lantaran kehilangan keluarga atau harta bendanya.
"Apalagi selama di lokasi pengungsian mereka tidak ada variasi aktivitas sehigga merasa jenuh. Kondisi ini membuat pikiran mereka tak bisa dialihkan ke hal lain selain bencana. Sejauh ini kita sudah melakukan berbagai upaya termasuk trauma healing," kata Djarot.
Jumlah pengungsi di tiga kabupaten di Jawa Tengah mencapai 260 ribu pengungsi. Namun demikian tenaga ahli kejiwaan yang tersedia ternyata sangat terbatas.
Koordinator Penanganan Kesehatan Jiwa Jateng-DIY Kementerian Kesehatan, Inu Wicaksana, mengatakan Jawa Tengah baru memiliki 19 tenaga ahli kejiwaan. Jumlah itu terdiri dari 7 psikolog dan 12 psikiater. Jumlah ini tentu masih jauh dari angka kecukupan.
Sedikitnya 515 pengungsi di DIY dan Jateng mengalami stres dan depresi. Sebanyak 39 diantaranya harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Magelang dan Klaten karena tergolong stress berat. Sementara di Sleman sekitar 377 mengalami depresi. "Minimal di Jateng ada sekitar 30 psikolog. Itu jumlah yang ideal," ujar dia.
(djo/djo)










































