"Peta itu harus dikantongi di mana saja termasuk ke kamar kecil, karena peta sekali lagi menjadi acuan kita kerja," kata Kasatgas Mina Subakin Abudl Muthalib di pemondokan petugas haji Mina, Rusyaifah, Makkah, Kamis (11/11/2010).
Selain peta untuk diri sendiri, petugas juga harus membawa banyak peta yang bisa dibagikan kepada jamaah yang membutuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia.
Syarif Abu Bakar, salah satu ketua rombongan (Karom) kloter 57 Jakarta yang akan menempati perkemahan di Mina Jadid menyatakan jamaahnya akan melakukan mabit di luar maktab. Pasalnya maktab di Mina Jadid inilai sudah keluar dari Mina sehingga mabit di sana tidak afdhol dilakukan.
"Kalau misalnya harus mabit, kita tetap harus melaju ke tengah. Kita mungkin akan mabit di sini saja (di dekat jamarat) ini kan lebih dekat sekitar 1 kilometer," kata Syafif.
Selain alasan masalah keafdholan, Syarif memilih mabit tidak di Mina Jadid juga dengan alasan keselamatan. Jamaah yang dibimbingnya banyak yang sudah berusia lanjut sehingga bila harus menempuh perjalanan 7 kilometer akan sangat kelelahan.
"Untuk menjaga mereka juga. Jamaah kita tidak muda semua, banyak yang sudah tua-tua," jelas Syarif.
Jamaah akan berada di perkemahan Mina sejak 10-13 Dzulhijah. Selama proses ibadah di Arafah, Muzdalifah dan Mina, petugas yang sebelumnya terbagi dalam tiga daerah kerja untuk sementara bersalin menjadi tiga Satgas. Tiap Satgas dipimpin Kepala Satgas yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Daerah Kerja (Kadaker). Kadaker Madinah menjadi Kasatgas Mina, Kadaker Makkah menjadi Kasatgas Mekkah dan Kadaker Jeddah menjadi Kasatgas Muzdalifah. Setelah proses ibadah di Armina selesai, satgas akan kembali bersalin menjadi Daker seperti sebelumnya.
(iy/mok)











































