Kisah Pengungsi Swadaya di Lereng Merapi

Kisah Pengungsi Swadaya di Lereng Merapi

- detikNews
Rabu, 10 Nov 2010 14:43 WIB
Sleman - Pagi ini Bu Ratmi harus kembali mengupas kentang-kentang kecil untuk kemudian dipotong dadu. Sedang Bu Darno dan beberapa ibu-ibu lainnya harus membuat racikan bumbu dan telor dadar. Sambel goreng kentang tanpa ati dan telor dadar gulung menjadi menu makan siang hari.

Di sudut lain, puluhan anak-anak SD dari berbagai tingkat kelas duduk lesehan di pinggir balai desa. Bukan sedang belajar-mengajar, tapi siswa SD ini sedang dihibur oleh relawan yang juga warga setempat sekadar mengusir kepenatan selama tinggal di pengungsian.

Pengungsian tersebut terdapat di Balaidesa Lumbungrejo, Kecamatan Tempel, Sleman. Aula balai desa disulap menjadi kamar tidur massal bagi 600 jiwa, dengan beralaskan tikar dan karpet. Warga mengungsi karena takut Kali Krasak meluap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sebelah kanan balai desa terdapat 10 WC darurat pinjaman dari Dinas PU Kabupaten Sleman, yang telah dipisah, 5 khusus wanita dan 5 khusus pria. Sebelah kiri aula, mepet dengan tembok balai desa, adalah tempat Bu Darmi dan rekannya menyiapkan segala hidangan untuk warga di pengungsian berdampingan dengan anak-anak mereka yang libur sekolah sejak beberapa hari lalu.

Pengungsian ini merupakan pengungsian swasembada yang dikelola sendiri oleh warga dibantu beberapa relawan.

"Untuk logistik kita usahakan dari jaringan yang kita punya, parpol, pengusaha maupun kolega kita yang bersedia membantu. Di sini tidak pernah ada bantuan dari pemerintah," ujar salah seorang relawan Primayuda saat berbincang dengan di detikcom di lokasi pengungsian, Balaidesa Lumbungrejo, Jl Magelang KM 18, Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta, Rabu (10/11/2010).

Satu-satunya sumbangan dari pemerintah adalah 10 WC darurat, itu pun tanpa sarana air bersih yang memadai. Warga di pengungsian ini mengandalkan sumur yang tidak jauh dari balai desa sebagai sarana mandi, cuci dan kakus (MCK).

"Beberapa warga yang bapak-bapak, gantian mengisi penampungan air untuk warga yang ingin ke toilet. Sedangkan ibu-ibu menyiapkan makanan," terang mahasiswa UGM yang sedang sibuk menulis tugas akhir ini.

Selain sarana air bersih, warga juga mengeluhkan sampah dan limbah pembuangan yang hingga hari ketiga sejak warga mengungsi belum diambil oleh Dinas PU setempat. Akibatnya di pojok balaidesa, tumpukan sampah menggunung dan menyebarkan bau tak sedap.

Kondisi anak-anak di pengungsian pun tak kalah menyedihkan. Saat para pengungsi lain dihibur aneka badut, sulap dan diberi peralatan menulis dan menggambar, anak-anak di pengungsian harus rela berkreatifitas dengan alat ala kadarnya.

"Tujuan kita memang bukan mengajar tapi mengusir bosan anak-anak, tapi memang dengan kondisi seadanya. Tadi kita ajak nonton film kartun tapi pakai laptop relawan, akhirnya ya desak-desakan karena jumlah anak banyak tapi layarnya kecil," tambah Zulhasan relawan yang juga warga Tempel ini.

Para relawan ini pun berharap, pemerintah memberikan perhatiannya kepada pengungsi di tempat tersebut. Mengingat, Tempel juga wilayah yang harus dikosongkan.

"Terutama air bersih, sampah dan limbah, serta perlengkapan untuk anak-anak bermain dan belajar supaya mereka tidak bosan. Itu yang sekarang kita butuhkan. Soal logistik kita sudah mandiri," imbuh Prima.

(her/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads