Suripto, pengungsi yang berasal dari Dusun Salam, Wukirsari, Cangkringan mengaku sama sekali tidak tahu kalau hari Rabu (10/11/2010) ini merupakan Hari Pahlawan. Sebabnya, situasi di pengungsian membuatnya jarang mengetahui hal-hal di luar sana.
Namun selain pahlawan kemerdekaan ada figur lain yang terus dikenang Suripto
terkait dengan aksi kepahlawanan. Pria berusia 62 tahun ini mengaku berhutang budi kepada para relawan Merapi yang membantunya menyemalatkan diri kala gunung teraktif di Indonesia tersebut meletus dashyat pada Jumat (5/11) silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mbengi niku peteng ndedet. Kulo bingung. Untunge enten relawan ingkang mbantu (Malam itu gelap gulita. Saya bingung. Namun untungnya ada relawan yang membantu," ujarnya dalam perbincangan detikcom di Stadion Maguwoharjo.
Namun Suripto tidak ingat relawan-relawan dari pihak mana yang membantunya
mencari jalan. "Sing jelas do nganggo rompi (yang jelas mereka memakai rompi)," kenangnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Subandi. Warga dusun Bulaksaksalak,
Wukirsari, ini mengaku tertolong dengan kesigapan relawan yang menyediakan truk tak jauh dari desanya. Menurutnya, jika tidak dibantu menggunakan truk, bisa jadi ia turut terkena awan panas.
"Dusun saya itu sekitar 15 kilo dari puncak, tapi awan datang cuma lima menit. Cepet sekali itu. Untung ada relawan, kalau saya jalan sendiri pasti terkejar. Pahlawan itu ya mereka ini," ujarnya.
(fjr/lrn)











































