"Sudah tinggal diumumkan, kita tunggu saja nanti oleh pemerintah. Saya rasa publik pasti menerima kok," kata anggota Dewan Gelar Jimly Asshiddiqie kepada detikcom, Selasa (9/11/2010).
Sedianya, pengumuman gelar pahlawan tersebut akan dilakukan 9 November. Namun karena ada sejumlah isu nasional, pengumuman itu kemungkinan tertunda.
Mantan anggota Wantimpres ini menegaskan, keputusan Dewan Gelar sudah maksimal. Meski terjadi perdebatan sengit dalam prosesnya, Jimly menilainya sebagai hal yang wajar.
"Bisa macam-macam nanti keputusannya. Bisa semuanya dikasih gelar, bisa semuanya enggak, bisa hanya sedikit yang diberi gelar. Bisa juga tidak. Bisa juga ada yang tidak dinilai sama sekali," jelasnya.
Bagaimana dengan calon yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat? Jimly menilai hal itu sebagai bagian dari demokrasi. Menurut dia, gelar pahlawan pasti selalu menimbulkan kontroversi karena ada dua perbedaan zaman, yakni saat tokoh tersebut masih hidup dan setelah meninggal.
"Buat yang hidup di zaman sang tokoh mungkin ada pendapat khusus. Tapi yang hidup sekarang, ada lagi pendapat. Jadi beragam," tutupnya.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah sudah menyaring 10 nama calon Pahlawan Nasional. Mereka adalah Ali Sadikin dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulteng, HM Soeharto dari Jawa Tengah, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari Jawa Timur.
Selanjutnya Andi Depu dari Sulawesi Barat, Johanes Leimena dari Maluku, Abraham Dimara dari Papua, Andi Makkasau dari Sulawesi Selatan, Pakubuwono X dari Jawa Tengah, dan Sanusi dari Jawa Barat.
Nama yang mengundang kontroversi yakni Soeharto. Banyak kritikan mengarah saat nama Soeharto muncul. Banyak yang menilai Soeharto masih belum pantas mendapat gelar pahlawan.
(mad/ddt)











































