"Harus dikeruk, karena MCK warga jadi tidak bisa dipakai kena lumpur," ujar Sartono warga yang tinggal di bantaran Kali Code, RT 01/01 Kota Baru, Yogyakarta, Selasa (9/11/2010).
Warga yang tinggal di bantaran Kali Code, tepatnya di sekitar jembatan Gondolayu memang menggunakan sarana MCK bersama-sama. MCK dibuat di bibir kali yang membelah kota Yogyakarta ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sartono, endapan pasir dan lumpur dari lahar dingin gunung Merapi sudah sangat tebal di dasar kali. Tanggul dari karung pasir yang dibuat warga kemarin ternyata kurang efektif karena air masih bisa rembes.
"Luapan memang tidak sampai melampaui tanggul, tapi masih rembes. Selain itu warga jadi tidak tenang, kalau tidur harus ngungsi," terangnya.
Beberapa warga yang rumahnya dekat dengan bibir kali memang masih mengungsi di sebuah balai pertemuan di sekitar lokasi. Namun sebagian warga tetap ada juga yang bertahan di rumah.
"Ndak ngungsi Mas, kayaknya ndak besar banjirnya. Tapi ya waspada saja," ujar Sri Anggraeni warga sekitar bantaran Kali Code.
Jembatan Gondolayu sendiri seolah menjadi daya tarik bagi masyarakat Yogyakarta. Setiap pengemudi terutama roda dua yang melintas di jembatan Gondolayu di Jl Jenderal Soedirman menyempatkan diri untuk melongok ke kali. Hal ini membuat lalu lintas di jembatan tersebut baik mengarak ke tugu maupun sebaliknya menjadi tersendat.
Kendati gerimis, antusiasme warga yang penasaran dengan luapan Kali Code tidak surut. Tak heran bila sepanjang jembatan Gondolayu di penuhi kendaraan roda dua yang terparkir di bahu jalan di kedua sisi nya. Hal ini diperparah tidak adanya petugas kepolisian di sekitar lokasi yang hingga pukul 22.00 ini masih dipadati warga.
(her/mad)











































