Namun tidak demikian di dusun Grogolan, Desa Umbulmartani, Sleman. Di sini hujan hanya turun rintik-rintik. Seolah tak ciut oleh hujan dan kabar letusan Merapi yang sedang menggelegar, beberapa ibu-ibu di dusun ini malah sedang asik tandur (tanam padi) di salah satu petak sawah.
"Mriki desane aman mas. Merapi mboten mriki, paling namung abune mawon (Di sini, desa nya aman mas. Merapi tidak sampai sini, paling hanya abunya saja)," ujar Mbah Waginah (63), warga dusun Ngentak, Umbulmartani saat sedang tandur bersama 8 rekannya, di Dusun Grogolan, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Selasa (9/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sedinten dibayar Rp 30 ribu, alhamdulillah mas. Niki pun bade rampung (Sehari dibayar Rp 30 ribu, alhamdulillah mas. Sekarang sudah mau selesai)," terangnya sambil meneruskan tandurnya.
Desa Umbulmartani memang tergolong aman dari letusan Merapi karena jaraknya yang cukup jauh (sekitar 25 Km). Selain itu desa ini meskipun dilewati sungai aliran Kali Kuning, namun jaraknya jauh dari lokasi pertanian.
Ibu-ibu dengan mengenakan pelindung kepala seadanya mengambil satu-persatu bibit padi yang telah diikat. Ikatan lalu dilepas dan ditanam mengikuti pola yang sudah ada, dua-tiga batang sekali tanam.
"Nggih enten tiang sing ngungsi, nek dusune kulo mboten mboten. Wong mriki kan pun tebih, dadi aman (ada juga warga yang ikut ngungsi, tapi di dusun saya tidak ada. Di sini sudah jauh dari Merapi jadi aman)," timpal seorang ibu lainnya.
Dalam menanam padi ibu-ibu ini pun memiliki jurus tandur yang sudah dipelajari sejak mereka kanak-kanak. Ketika menanam, mereka berjalan mundur agar bibit padi yang sudah tertanam tidak terinjak-injak. Ketika sudah menancapkan bibit, pantang untuk mencabut kembali.
"Nek dicabut, terus diganti nggon, mboten sae panene. Dadi kudu ngati-ngati Mas (Kalau di cabut, ters dipindah tempat, hasil panen tidak akan bagus. Jadinya harus hati-hati)," katanya.
Tidak hanya rombongan ibu Waginah saja yang hari ini masih bertani. Tak jauh dari lokasi mereka tandur, seorang petani juga sibuk membajak sawah dengan traktornya.
Hal ini terlihat kontras, mengingat di puncak Merapi samar-samar masih terdengar gemuruh. Namun Waginah dan teman-teman seprofesinya mengaku tidak takut.
"Sing glagar-glagur, gladak-gluduk kan mriko, mboten tekan mriki dadi nggih mboten wedi mas. Tapi nek Pak lurahe merentah ngungsi, nggih ngungsi. Nurut pemerintah mawon (Yang bergemuruh kan diatas sana, tidak sampai sini jadi ya tidak takut. Tapi kalau pak Lurah memerintahkan untuk mengungsi ya kita ngungsi. Nurut pemerintah saja)," imbuhnya.
(her/lrn)











































