Joko Santoso, warga Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, telah beberapa hari terakhir harus mengungsi ke pendopo kabupaten Klaten. Namun demikian, setiap hari dia tetap harus naik ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, karena harus mengurus ternaknya.
Selasa (9/11/2010) siang, dia mampir di rumah Purnomo, seorang penjual pakan ternak di dekat Pasar Surowono, Desa Tangkil, Kemalang. Di kios itu dia membeli enam ikat pakan ternak yang berupa tebon atau batang pohon jagung beserta daunnya yang masih hijau segar. Seikat kecil harganya Rp 2,5 ribu. Menurutnya, enam ikat itu akan cukup untuk memberi makan dua ekor sapi miliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terus-terang saja kami berharap. Sebab kami sudah kesulitan saat ini mengurus ternak karena mencari pakan sudah sangat sulit. Memang para maklar ternak sering mendatangi kami sembari terus membujuk agar dijual, tapi harga yang ditawarkan hanya sekitar setengah dari harga normal. Kami tidak mau rugi juga," ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ngadino, warga Dusun Nadri, Desa Dompol, Kemalang. Setiap hari dia harus kembali ke rumah untuk mencari pakan untuk ternaknya. Dia mengaku hingga saat ini juga belum ada sosialisasi atau pendataan dari pemerintah. Bahkan dia menilai kabar itu hanya penghiburan saja bagi warga yang sedang menderita.
"Paling-paling yang cuma kabar agar kami jadi senang dan terhibur. Tapi kalau pemerintah tetap tidak mau membeli ternak dengan harga tinggi, ya jangan salahkan warga jika setiap hari kembali masuk ke daerah rawan bencana karena harus mengurus ternak. Kami juga tidak mau menjual murah ternak ke blantik (makelar) ternak," ujar Ngadino saat ditemui di rumahnya.
(djo/djo)










































