Belum Ada Pendataan, Pembelian Ternak oleh Pemerintah Dianggap Tak Serius

Merapi Meletus

Belum Ada Pendataan, Pembelian Ternak oleh Pemerintah Dianggap Tak Serius

- detikNews
Selasa, 09 Nov 2010 17:40 WIB
Belum Ada Pendataan, Pembelian Ternak oleh Pemerintah Dianggap Tak Serius
Klaten - Warga korban Merapi di Kemalang, Klaten menilai janji pemerintah membeli ternak milik warga hanya penghiburan. Buktinya hingga saat ini belum ada sosialiasi maupun pendataan. Padahal tanpa ada kejelasan, warga setiap hari akan tetap masuk ke zona larangan karena harus mengurus ternak.

Joko Santoso, warga Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, telah beberapa hari terakhir harus mengungsi ke pendopo kabupaten Klaten. Namun demikian, setiap hari dia tetap harus naik ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, karena harus mengurus ternaknya.

Selasa (9/11/2010) siang, dia mampir di rumah Purnomo, seorang penjual pakan ternak di dekat Pasar Surowono, Desa Tangkil, Kemalang. Di kios itu dia membeli enam ikat pakan ternak yang berupa tebon atau batang pohon jagung beserta daunnya yang masih hijau segar. Seikat kecil harganya Rp 2,5 ribu. Menurutnya, enam ikat itu akan cukup untuk memberi makan dua ekor sapi miliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Joko berharap, Pemerintah segera merealisasikan janjinya itu. Semula, kata Joko, ketika mendengar kabar bahwa pemerintah sanggup membeli semua ternak warga Merapi, dirinya dan warga lainnya mengaku senang. Sebab hal itu berarti mereka tidak lagi harus turun naik mengurus ternak. Namun hingga saat ini belum pernah ada sosialisasi dari perangkat desa tentang rencana pembelian ternak oleh pemerintah itu.

"Terus-terang saja kami berharap. Sebab kami sudah kesulitan saat ini mengurus ternak karena mencari pakan sudah sangat sulit. Memang para maklar ternak sering mendatangi kami sembari terus membujuk agar dijual, tapi harga yang ditawarkan hanya sekitar setengah dari harga normal. Kami tidak mau rugi juga," ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ngadino, warga Dusun Nadri, Desa Dompol, Kemalang. Setiap hari dia harus kembali ke rumah untuk mencari pakan untuk ternaknya. Dia mengaku hingga saat ini juga belum ada sosialisasi atau pendataan dari pemerintah. Bahkan dia menilai kabar itu hanya penghiburan saja bagi warga yang sedang menderita.

"Paling-paling yang cuma kabar agar kami jadi senang dan terhibur. Tapi kalau pemerintah tetap tidak mau membeli ternak dengan harga tinggi, ya jangan salahkan warga jika setiap hari kembali masuk ke daerah rawan bencana karena harus mengurus ternak. Kami juga tidak mau menjual murah ternak ke blantik (makelar) ternak," ujar Ngadino saat ditemui di rumahnya.

(djo/djo)


Berita Terkait