"Merapi melontarkan sejumlah debu hingga ke atmosfer. Ada debu yang sifatnya higroskopis, menyerap uap air. Setelah di atmosfer, ada inti kondensasi. Kalau banyak terbentuk awan jadi butir hujan," kata pengamat iklim dari ITB Zadrach Ledoufij Dupe kepada detikcom, Selasa (9/11/2010).
Dia menjelaskan, seberapa banyak daerah yang terpengaruh curah hujannya tergantung lontaran debunya. Kalau lontarannya pendek, maka yang terpengaruh cuacanya hanya di sekitar Yogya. Sedangkan bila lontarannya lebih dari 10 km, maka debunya akan mencapai radius yang lebih luas dan berpotensi mempengaruhi curah hujan di wilayah yang lebih luas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dimming adalah fenomena penyusutan radiasi sinar matahari, yang digunakan sebagai lawan dari global warming. Fenomena itu terjadi karena atmosfer tertutup debu, sehingga cahaya matahari tidak masuk ke bumi. Akibatnya suhu bumi menurun.
"Kalau letusan Merapi ini, saya rasa nggak akan berpengaruh terhadap suhu global. Mungkin suhu di Yogya akan menjadi lebih dingin selama beberapa bulan dan curah hujan juga lebih banyak," tutur Zadrach.
Apabila lontaran material Merapi mencapai 8 kilometer, kata dia, maka diperkirakan debu-debu hanya akan mencapai troposfer. Troposfer merupakan lapisan terendah atmosfer yang tebalnya kira-kira mencapai 10 kilometer di atas permukaan bumi.
"Troposfer itu seperti langit-langit. Lapisan di atasnya adalah stratosfer. Saat rasa debu Merapi hanya akan mencapai troposfer," lanjut Zadrach.
Meski letusan 2010 ini lebih besar daripada letusan pada 2006, namun tidak sedahsyat letusan Gunung Tambora pada 1815. Letusan Tambora ini diyakini sebagai yang terdahsyat di dunia.
"Akibat debu-debu yang dilontarkan Tambora, selama dua tahun berturut-turut Eropa tidak mengalami musim panas," ucap Zadrach.
(vit/nrl)











































