Sebagai langkah awal, menteri luar negeri Austria dan Indonesia meneken nota kesepakatan kerjasama bidang sosial budaya. Penandatanganan nota kesepakatan itu disaksikan oleh Presiden SBY dan Presiden Heinz Fischer, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11/2010).
"Kami lihat Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menunjukkan bahwa Islam itu menolak kekerasan. Kehidupan antar umat beragama di sini juga damai. Kamu mau belajar soal itu," kata Presiden Fischer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal setiap tahun berlangsung tiga kali pertemuan antar pemuka agama yang ada di Austria. Ada perwakilan dari komunitas Kristen, Protestan, Kristen Katolik, Islam dan juga Yahudi.
Atas pertanyaan tersebut Presiden SBY menyatakan bangsa Indonesia yakin bahwa hanya kerukunan antar umat beragama sangat bisa dijalin. Bila kerukunan telah tercipta, maka kehidupan pasti akan berjalan lebih baik lagi.
"Kami semua sepakat untuk hindari perpecahan antar komunitas dan ikut menjaga harmoni. Penting sekali agar semua pihak turut berpartisipasi," ujar SBY.
SBY mengatakan, bila kerjasama RI-Austria dapat menjadi semacam pilot project mengenai arti penting soft power dalam menjaga pedamaian. Dua negara bisa saling mempromoasikan bahwa sebenarnya dunia Islam dengan peradaban Barat dan modernitas bisa hidup berdampingan.
"Nanti kepada Presiden Obama, saya akan sampaikan hal yang sama. Barat dan Islam bisa secara nyata menjalin komunikasi, mengurangi perbedaan dan kedepankan persamaan. Bila pilih caranya, tentu saja soft power lebih baik sebab hard power yang bila salah pemakaiannya menimbulkan masalah besar," ujar SBY.
"Saya sadari tantangannya tidaklah sedikit. Tapi kami ingin tunjukkan kepada dunia bahwa Islam dan demokrasi bisa berdampingan," ujar SBY.
(lh/aan)











































