"Di tempat saya, dua rumah tertimpa pohon tumbang. Yang satu kena pohon nangka,yang satunya lagi pohon waru," ujar Fendi, warga Desa Kaliwader, Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (9/11/2010).
Pohon yang tumbang dan menimpa rumah itu berukuran sedang. Akibat tertimpa pohon, genteng rumah tersebut pun banyak yang pecah. Dengan bergotong royong, warga memotong pohon tumbang dan membantu memperbaiki genteng rumah warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama tiga hari sejak Jumat (5/11) pekan lalu, Fendi dan tetangga-tetangganya mengalami listrik padam. Dia mengaku tidak mendapat penjelasan mengapa listrik mati. Untungnya, Senin kemarin listrik sudah menyala.
"Hari ini hujan abu sudah pergi. Tapi jalan-jalan masih belum bersih dari abu, soalnya belum ada hujan air di sini. Jadi kalau ada angin atau kendaraan yang lewat di jalanan ya debunya ke mana-mana," terang dia.
Menurutnya, agak sulit membersihkan tumpukan abu vulkanik Merapi. Diperlukan guyuran air yang cukup kuat dan banyak agar debu-debu tersebut bisa dihilangkan.
"Abunya menempel banget, jadi agak sulit. Yang di atap rumah kita belum bersihkan, soalnya susah. Kalau yang di tanah kita cangkul-cangkul saja," ucap Fendi.
Abu vulkanik Merapi yang tebal bisa menumbangkan pohon. Saat Merapi bererupsi hingga lontaran ketinggiannya lebih dari 8 km lalu melewati awan dan uap air, maka massa abu dan pasir akan bertambah.
Vulkanolog dari Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Dr Eko Teguh Sampurno, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (5/11) menjelaskan, massa abu dan pasir menjadi bertambah karena membawa air. Sehingga ketika debu dan pasir itu mendarat dan menumpuk di daun-daun pohon akan menyebabkan batang pohon tak mampu menahan berat.
"Massa setelah melewati uap air akan bertambah dibandingkan saat massa itu kering. Uap air membuat abu dan pasir menjadi berat," terang dia.
(vit/nrl)











































