"Ada beberapa pengaduan dan kami terus mengamati. Transparansi harus dijaga, dan klaim yang menyumbang TV-x peduli, padahal itu dana penonton, harusnya sumbangan penonton TV-x," kata Wakil Ketua KPI Nina Mutmainnah di Gedung Bapetan, Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (8/11/2010).
Menurut Nina, program penggalangan dana bencana di stasiun tv sudah tampak seperti kegiatan corporate social responsibility (CSR). Nama stasiun TV yang muncul dan harum di masyarakat. Padahal dana berasal dari penonton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasilnya juga harus dipertanggungjawabkan ke publik," tegasnya.
Saat ditanya apakah ada aduan dugaan penyelewangan dalam pengelolaan dana bencana, Nina mengaku sudah mendapatkan banyak laporan. Namun, dia masih melakukan verifikasi data sebelum membawanya ke ranah hukum.
"Kita upayakan dulu lewat Dewan Pers. Kalau itu tidak dipatuhi, baru kita ke ranah hukum," tegasnya.
Bagaimana dengan audit khusus bagi stasiun TV yang menggalang dana? Nina mengatakan hal itu sudah pernah dibicarakan di KPI, namun saat ini belum diambil keputusan.
"Sekarang kita fokus ke masalah yang urgent dulu," lanjutnya.
Komisioner KPI Yazirwan Uyun menambahkan, selain dana, ada persoalan lain yang harus diperhatikan stasiun TV terkait tayangan bencana. Menurut dia, tayangan soal korban dan darah harus diperhatikan kembali sensornya.
Selain itu, gambar yang berulang juga perlu mendapat perhatian. Sebab, akhir-akhir ini sering tayang gambar yang tidak sesuai dengan berita terakhir yang disampaikan.
"Ini gambar berulang, tapi disiarkan pada berita lain menggunakan gambar lama. Ini yang perlu dicermati oleh lembaga penyiaran secara umum," tambahnya.
Keselamatan para jurnalis di lapangan juga perlu diperhatikan. Yazirwan meminta agar tidak ada upaya untuk memperoleh gambar ekslusif namun tidak memperhatikan nyawa sang wartawan.
"Buat apa gambar ekslusif kalau nantinya meninggal. Sia-sia," tutupnya.
(mad/irw)










































