"Kalau ingin melakukan studi banding sesungguhnya perguruan tinggi di negara maju sangat mudah diakses. Sehingga untuk kunjungan kerja hanya dalam rangka membalas kunjungan saja tidak perlu rombongan yang berbondong-bondong," ujar Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Amir Syamsuddin, kepada detikcom, Senin (8/11/2010).
Β
Amir menuturkan, langkah tersebut jauh lebih hemat dibanding harus berbondong-bondong ke luar negeri. DPR, menurut Amir, bisa menunjukkan empatinya kepada rakyat kecil dengan berhemat dalam anggaran tersebut.
"Saat ini perhatian harus tercurah dengan berbagai penderitaan bencana," terang Amir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat kerjasama dengan kerjasama dengan perguruan tinggi di tanah air belum dimaksimalkan apalagi untuk kelengkapan program legislasinya sangat dibutuhkan," ujar Amir.
Lebih dari itu, Amir menuturkan, perguruan tinggi kerap mengundang pakar ahli dalam kerangka kerjasama lintas perguruan tinggi. DPR dapat ikut serta dalam forum tersebut dalam memaksimalkan tugas legislasinya.
"Kalau mengundang profesional dari luar negeri secara langsung itu biayanya sama saja dengan memberangkatkan lima anggota DPR ke luar negeri," ujar Amir.
Amir menjelaskan, dengan melibatkan perguruan tinggi maka DPR akan mendapat masukan yang signifikan lebih dari yang diperoleh dalam kunker luar negeri. Apalagi, anggota DPR harus menyadari bahwa kunker bukan hak anggota DPR tetapi kewajiban legislasi DPR.
"Saya perhatian kunjungan kerja menjadi jatah. Tujuannya kan kunjungan kerja. Jangan pula menjadi jatah melakukan perjalanan sehingga sekretariat mendorong anggota untuk mendapatkan haknya untuk melakukan perjalanan yang semakin dikritik masyrakat," papar Amir.
"Untuk itu segeralah membuat MoU dengan perguruan tinggi," sarannya.
(van/lrn)











































