"Kemarin saya ke Kecamatan Bener, itu di Purworejo bagian utara, berbatasan dengan Magelang. Di sana banyak pohon yang robih kena abu vulkanik. Di pinggir jalan maupun di ladang, banyak pohon yang roboh," kata warga asal Purworejo yang kini tinggal di Klaten, Yulianto, saat dihubungi detikcom, Senin (8/11/2010).
Menurut dia, keadaan kecamatan itu seperti daerah yang baru saja dilanda perang. Jalanan dan rumah warga berwarna keputih-putihan dan pohon-pohon bertumbangan. Pohon mahoni di pinggir jalan raya patah dahan-dahannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasihan mereka, harapan buat memanen jadi pupus. Apa mereka juga berhak dapat ganti rugi pemerintah? Tolong perhatikan mereka, karena tampaknya sampai Minggu kemarin belum ada tindakan apa-apa," lanjut Yulianto.
Abu tebal tampak pula menyelimuti jalan. Karena belum ada hujan, abu itu belum terguyur air. Akibatnya, jarak pandang pengendara pun terbatas. Dalam jarak sekitar 5 meter, pengendara sudah kesulitan melihat.
"Makanya banyak mobil yang jalannya pelan sekali. Malah kalau mau berpapasan dengan kendaraan lain harus berhenti karena takut senggolan," sambung dia.
Warga, lanjut Yulianto, juga kesulitan membersihkan tumpukan abu di atap rumah. Karena abunya demikian tebal dan tidak mampu diguyur menggunakan selang air biasa. Padahal tumpukan abu vulkanik bisa menyebabkan atap rumah roboh.
Sementara itu, wilayah Kaligesing, Purworejo, juga diporak-porandakan abu vulkanik. Hingga Senin pagi, listrik di wilayah itu padam karena tiang listrik yang roboh belum diperbaiki.
"Bahkan hanya untuk meng-charge handphone, warga Kaligesing harus menuju kota kabupaten. Itu pun harus melompati tiang listrik yang roboh dan jalanan yang licin akibat abu yang bercampur air hujan, sehingga membuat para pemakai jalan harus ekstra hati-hati," kata Esti W melalui fasilitas Info Anda.
Masyarakat Kaligesing berharap, pemerintah cepat tanggap menghadapi dampak abu vulkanik. Listrik yang sudah tiga hari padam juga diharapkan segera diatasi.
"Aktivitas masyarakat pun terganggu dengan adanya kejadian yang tak terduga ini, mengingat wilayah ini berada 60-an km dari Gunung Merapi," ucap Esti.
(vit/fay)











































