"Jenuh banget Mas. Dari kemarin cuma duduk, jagongan (ngobrol), nggak bisa ngapa-ngapain lagi," ujar Parwito, salah satu pengungsi warga Bunder, Pakem, di posko Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Senin (8/11/2010).
Meski tetap dapat berkumpul bersama keluarganya di posko pengungsian, Parwito tetap rindu dengan rumahnya yang saat ini tengah berada dalam zona bahaya 20 kilometer dari Gunung Merapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Parwito mengakui fasilitas di posko Maguwoharjo sudah cukup lengkap. Menurutnya, kebutuhan dasar juga sudah dapat terpenuhi.
"Di sini lumayan. Makanan selalu tersedia. MCK ada dan mandi ngantrenya tidak terlalu panjang," ujarnya.
Kejenuhan yang sama juga dirasakan oleh Ida. Warga Cangkringan yang menyelamatkan diri secara mandiri dengan naik kendaraan pribadi ini menuturkan bahwa berada dalam suatu lingkungan yang begitu banyak orang itu tidak nyaman.
"Nggak enak rasanya tiap saat melihat orang berlalu lalang. Riuh sekali. Pengen segera pulang," ujarnya dalam bahasa Jawa.
Bosan juga dirasakan oleh putra Ida, Dimas. Dia mengaku merasa tidak nyaman karena setiap kali akan tidur selalu terganggu dengan suara percakapan yang tak kunjung berhenti meski telah larut malam.
Namun bocah berusia 10 tahun ini mengaku mendapat banyak teman selama mengungsi di posko Maguwoharjo.Β "Brebek (bising) sekali. Tapi enak, sekolahnya libur. Tiap hari bal-balan (main bola) di lapangannya PSS," ujar Dimas.
(fjr/lrn)











































