"Kita masih kekurangan alat-alat MCK seperti sabun dan pasta gigi," kata Rusdiyanto, salah seorang warga Gunungkidul, kepada detikcom, Senin (8/11/2010).
Rusdiyanto menjelaskan, terdapat sekitar 300 orang pengungsi Merapi di Desa Bunder, Jl Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Para pengungsi ini ditampung di sebuah aula berkapasitas 100 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusdiyanto menjelaskan, banyak pengungsi yang tinggal di rumah sanak saudaranya. Terkadang satu rumah bisa ditempati sekitar 60 orang pengungsi. "Kalau untuk daerah sini makanan masih cukup, cuma kebutuhan MCK saja yang kurang," katanya.
Nasib yang sama dialami pengungsi di SMP Muhammadiyah Blondo, Mungkit, Magelang, Jawa Tengah. Sekitar 350 orang pengungsi ditampung di SMP tersebut. Para pengungsi masih membutuhkan tikar, selimut, pakaian dan obat-obatan.
"Kalau makanan dibantu penduduk sekitar sini," kata Ahmad Zainuddin, warga Solo yang orang tuanya menjadi relawan pengungsi di daerah Mungkit.
Ahmad menjelaskan, selain di SMP Muhammadiyah Blondo, sekitar 200 orang pengungsi juga memenuhi sebuah bangunan yang terletak di samping SMP itu. Para pengungsi ini berasal dari Muntilan, Sawangan, Srumbung dan Tlogolele.
Kekurangan logistik juga dirasakan 400 orang korban Merapi yang mengungsi ke daerah Kepil, Wonosobo, Jawa Tengah. "Mereka ditampung di sebuah gudang kosong. Semua bantuan berasal dari masyarakat setempat," kata Ningsih, warga setempat.
(nal/nal)











































