"Keluarga sudah meminta kepada kami untuk ditemukan. Tapi bagaimana lagi. Mereka tertimbun material hingga 3 meter dalamnya," kata Komandan Tagana, Andi Anindito, kepada detikcom, Minggu (7/11/2010).
Menurut Andi, timnya hampir merasa apatis untuk menembus ke lokasi di mana jenazah kedua relawan itu diperkirakan berada, yakni sekitar 12-14 km dari puncak Merapi. Selain karena dalam, material yang disemburkan gunung itu hingga kini masih sangat panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika situasi Merapi makin memburuk, baik Supriyadi maupun Supriyanto, mencium gelagat mencurigakan akan adanya penjarahan bantuan bagi pengungsi. Namun, mereka juga melihat sejumlah pengungsi yang terancam nyawanya oleh awan panas atau wedhus gembel.
"Jadi ada keraguan menjaga logistik sama menyelamatkan pengungsi. Tapi mereka memilih untuk menyelamatkan pengungsi itu. Akhirnya mereka harus mengalamai nasib seperti sekarang," ungkapnya.
Andi mengatakan, sebelum awan panas menggulung, Supriyadi dan Supriyanto menelepon ke rekan-rekannya yang berada di posko bawah. Komandan meminta agar turun, namun mereka memilih menyelamatkan warga."Situasi seperti kemarin memang tidak kita duga. Sangat cepat. Semua tidak mengira," tutup Andi.
(irw/nrl)











































