Demikian dilansir The Star, Sabtu (6/11/2010).
Penggambaran ini tidak berlebihan karena letusan Merapi sejak akhir pekan lalu tercatat sebagai letusan terdahsyat sejak 1870. Hingga kini sedikitnya 116 orang tewas akibat erupsi yang tak kunjung berhenti itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahasiswa tahun pertama ini menceritakan, tak lama kemudian dia menerima SMS yang berisi bahwa semua mahasiswa Malaysia di UGM harus bersiap untuk dikirim kembali ke kampung halaman.
Pesan itu membuatnya semakin khawatir. Untunglah berkat bantuan seorang temannya, dia diantar ke asramanya dengan motor. Dia lega setelah melihat mahasiswa Malaysia lainnya menunggunya untuk dievakuasi.
Dia menceritakan, selama gunung Merapi meletus, dia dan teman-temannya sempat merayakan Hari Raya Deepavali Tahun 5112.
"Pada tengah malam pada malam Deepavali, kami memotong kue ketika kita mendengar suara gemuruh non-stop di langit diikuti oleh seperti suara batu jatuh di atap asrama kami. Cerita rakyat setempat mengatakan ini akan diikuti oleh gempa bumi. Semua dari kita sangat takut," katanya.
Mahasiswa Malaysia lainnya, Nur Taufiqah Idris, 22, dari Greenwood, Gombak, Selangor, mengatakan dia senang dipulangkan ke negerinya.
"Kami telah siap (pulang) sejak pertama kali Merapi meletus pada 26 Oktober dan terjadi hujan abu vulkanik. Kami mengkhawatirkan keselamatan kami," katanya.
Mahasiswa Malaysia di Yogya yang mudik sebanyak 386 orang. Sedangkan 21 mahasiswa Kedokteran memilih menetap di Solo hingga situasi kembali normal, karena mereka terikat dengan tugas klinis.
(nrl/lrn)











































