"Yang jelas kita sedang menyisir lagi untuk saat ini. Evakuasi sedang berlangsung. Kalau sudah ditemukan langsung dimasukkan ke rumah sakit untuk proses identifikasi," kata Wakil Bupati Sleman Yuni Satyaningsih saat dihubungi detikcom, Sabtu (6/11/2010).
Saat ini, lanjut Yuni, sejumlah personel TNI, tim SAR, dan para relawan menyisir 3 kecamatan yakni Kecamatan Cangkringan, Pakem, dan Ngemplak. Beberapa desa di 3 kecamatan inilah yang pada Jumat (5/11) dini hari terkena semburan awan panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuni mengaku kondisi situasi di Sleman sendiri masih belum memungkinkan untuk dilakukan pemakaman terhadap sejumlah jenazah korban tewas yang sudah teridentifikasi. Masyarakat masih khawatir akan datangnya semburan awan panas lanjutan yang diisukan lebih besar lagi.
"Untuk pemakaman kita belum pikirkan dulu ya mbak. Kita evakuasi dulu semuanya. Karena di sini juga masyarakat masih khawatir dengan ancaman semburan awan panas lagi," ujarnya.
Menurut Yuni, untuk perekonomian Sleman saat ini masih berjalan dengan lancar. Hanya desa-desa di sejumlah kecamatan yang sudah terkena semburan awan panas yang kini perekonomiannya sudah mati. Namun untuk beberapa desa seperti di Desa Maguwoharjo, Depok, beberapa pasar masih beraktivitas.
"Di Pasar Tajem maguwo masih berjalan dengan baik. Tapi ya di wilayah lain yang kena awan panas ya sudah tidak beraktivitas lagi. Kalau untuk Yogyakarta sendiri tentu masih baik-baik saja. Kan yang berduka di Sleman. Jadi isu yang bilang Yogyakarta akan menjadi kota mati, itu tidak benar," ungkapnya.
Yuni juga menjelaskan kalau untuk kebutuhan para pengungsi yang tersebar di sejumlah posko masih terpenuhi. Hanya untuk kebutuhan air bersih dan MCK yang masih dibutuhkan lebih banyak lagi.
"Memang di semua posko ada. Tapi masih butuh lebih banyak lagi. Untuk logistik sudah mulai terpenuhi. Tapi yang kita tidak tahu ada sejumlah pengungsi yang berada di rumah saudaranya. Apa butuh bantuan pemerintah atau bagaimana," jelasnya.
(gus/mad)










































