"Saya sudah dua hari meninggalkan rumah bersama tiga anggota keluarga. Pagi ini mau menengok rumah. Selain itu juga membawa pakaian kotor untuk mengambil pakaian yang bersih," kata Sumaryono, warga Ngemplakseneng, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, kepada detikcom, Sabtu (6/11/2010) pagi.
Sebelum erupsi Merapi yang terjadi pada Kamis (4/11/2010), di sekitar tempat tinggal Sumaryono masih menjadi barak pengungsi. Namun setelah ada luncuran awan panas besar, Sumaryono dan warga sekitar diminta ikut mengungsi juga. "Dan saya akhirnya ditampung di daerah Bugisan, Klaten," cerita Sumaryono.
Pria paruh baya ini menjelaskan, selama sehari kemarin, dia belum bisa menengok rumahnya yang jaraknya 15-17 kilometer dari puncak Merapi. Oleh karenanya, hari ini dia menyempatkan diri pulang ke rumah untuk bersih-bersih.
"Nanti saya mau lihat rumah bersih-bersih sekalian nyuci," ujarnya.
Pantauan detikcom, para pengungsi yang sebagian besar tinggal di barak pengungsian di SD Kebondalem, Klaten, Balai Desa Bugisan, dan sekitarnya ini menengok tempat tinggalnya dengan berboncengan mengendarai sepeda motor sambil membawa beberapa bungkusan.
Mereka sebagian besar warga Desa Ngemplak Seneng, Kepurun, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, serta beberapa warga dari sekitar Dusun Panggang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten.
Tak ada raut muka takut di wajah mereka meski rumah yang akan mereka jenguk berada di zona tidak aman, yakni kurang dari 20 kilometer dari puncak Merapi.
(anw/anw)











































