"Jadi komposisi magma tidak jauh dari 2006. Tapi volumenya jauh lebih besar," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar kepada detikcom, Jumat (5/11/2010).
Selain itu, kandungan gas yang ada di perut Merapi juga lebih besar. "Kandungan silika 57 itu persen. Sama dengan 2006," lanjut Sukhyar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, kini beberapa alat pemantau deformasi Gunung Merapi tidak dapat berfungsi akibat awan panas. Pengambilan sampel gas yang biasa dilakukan di dekat puncak Merapi pun tidak bisa dilakukan akibat daerah bahaya Merapi yang diperluas.
"Untuk Gunung Merapi ada alat seismik, pemantau deformasi, juga ada pencatat gas. Tapi tidak semua berfungsi. Yang deformasi tidak berfungsi karena awan panas, pengambilan sampel gas di puncak juga tidak mungkin sekarang ini," lanjut Sukhyar.
Meski demikian, menurut dia, alat seismik terus bekerja. Dalam kondisi seperti sekarang ini, alat seismik sudah bisa memberi banyak informasi terkait aktivitas Merapi.
"Seismik terus bekerja. Dan itu ada di stasiun (stasiun pemantau) yang banyak. Anda bisa lihat sendiri, alat yang kita punya sudah seperti milik Amerika Serikat," ucap Sukhyar.
Disampaikan dia, beberapa alat yang kini tidak berfungsi akan segera dipulihkan. Namun dia menegaskan, saat ini alat seismik pun telah mampu mengetahui aktivitas Merapi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kesalahan pemantauan maupun informasi.
"Alat seismik itu yang memantau kelakuan denyut jantung Gunung Merapi. Kita tahu bagaimana Merapi dengan melihat denyutnya," jelas Sukhyar.
(vit/asy)











































