"Saya ambil cuti hari Jumat ini agar dapat mengunjungi anak dan istri di Ngaglik (Sleman)," ujar Nugroho, pegawai badan akuntan publik di kereta Argo Dwipangga di tengah-tengah perjalanan dari Stasiun Gambir menuju Solo Balapan, Jumat (5/11/2010).
"Saya khawatir dari kemarin pemberitaan kok kayaknya situasinya mencekam. Biar selama ini mereka bilang baik-baik saja, tapi kalo belum ketemu langsung rasanya belum manteb," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan berjilbab ini merupakan warga kelahiran Turi, Sleman yang mencemaskan kondisi kedua orang tuanya yang saat ini juga tengah mengungsi.
"Kasihan bapak dan ibu, anak-anaknya pada merantau semua. Makanya itu saya pulang," kata Rika.
Dia menceritakan, tadinya dia akan naik pesawat ke Jogja. Namun karena semalam mendapat kabar Merapi meletus lagi, dia ragu apakah bandara Adisutjipto akan tetap dibuka. Oleh karena itu ,dia memutuskan untuk naik kereta saja.
"Yang pasti-pasti sajalah. Yang pasti sampai. Takutnya kalo naik pesawat, di tengah jalan di-cancel," tandasnya.
Kereta Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Jakarta-Solo pada Jumat (5/11/2011) hari ini tampak cukup ramai dibanding hari Jumat biasanya. Dimungkinkan hal ini terjadi karena banyaknya penerbangan jurusan Yogyakarta yang terpaksa dibatalkan karena debu vulkanik yang disemburkan oleh Merapi.
"Ada peningkatan signifikan, biasanya di hari Jumat itu sekitar 150 penumpang. Pagi ini 315," terang Kapten Kru Kereta, Hanafi.
(fjr/lrn)











































