"Kondisi jenazah hampir semua hitam dan saling menempel dan berdempet kulit antar satu jenazah dengan jenazah yang lain. Sebagian besar bahkan sudah tidak berbentuk hingga sulit untuk kita identifikasi," ujar dokter DVI (Disaster Victim Identification) Polda DI Yogyakarta dr. Agung Hadi Wijanarko, kepada wartawan di ruang forensi RS Sardjito, Jl Kesehatan, Sleman, DIY, Jumat (5/11/2010).
Agung mengatakan, kondisi jenazah sangat mengenaskan. Hingga ada korban yang diperkirakan dua orang, ternyata satu jenazah.
"Tadi ada yang kita kira ibu dan anak ternyata, hanya satu orang. Tapi itu pun belum bisa kita identifikasi apakah laki-laki atau perempuan karena sudah gosong," jelasnya. Karena itulah korban yang semula 49 orang direvisi menjadi 48 orang.
Agung juga belum dapat memperinci berapa banyak jumlah korban tewas yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
"Semua masih kita identifikasi, dan ini sangat sulit," kata Agung.
Kondisi di rumah sakit sendiri saat ini sangat hiruk pikuk oleh tim evakuasi yang tampak keluar masuk kamar forensik. Kamar forensik juga saat ini mulai ditutup untuk wartawan, sehingga untuk informasi para korban wartawan harus menunggu keterangan resmi dari petugas DVI.
Hingga kini tim evakuasi masih mencari para korban yang masih berada di dusun-dusun yang terkena awan panas. Kemungkinan korban masih bertambah.
Ini merupakan gelombang korban tewas pertama setelah gelombang pertama pada 26-27 Oktober. Kala itu korban tewas mencapai 37 orang.
(lia/nrl)











































