"Kalau jaminan ya susah menjamin," kata Menag saat tiba di Madinah, Kamis (4/11/2010). Menag sebagai amirul haj tiba di Madinah setelah sebelumnya ke Makkah. Di Madinah, Menag disambut Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah Subakin Abdul Muthalib.
Banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan penerbangan. Kalau pemberangkatan di tanah air, kata Menag, problem utama pada maskapai penerbangannya. Khusus Solo, problem utamanya karena ada debu dari Gunung Merapi yang membahayakan penerbangan.
Tapi kalau pemulangan, selain dari maskapainya, mungkin juga problemnya dari administratur bandara yang mengatur trafik dari penerbangan. "Jadi memang pada waktu pemulangan padatnya luar biasa, mungkin saja ada keterlambatan. Jadi tidak bisa dijamin," kata Menag.
Menag mengakui banyak desakan agar memutus kontrak dengan Saudi Arabian. Tapi ia tidak yakin bila memutuskan hubungan kerja dengan Saudi Arabian akan menyelesaikan masalah. Masalah penerbangan haji sangat kompleks sehingga tidak bisa dengan tiba-tiba mencari pengganti maskapai bila memutus kontrak dengan Saudia Arabian.
"Pengganti tidak bisa tiba-tiba. Jadi bukan seperti kita mau berangkat dari
Jakarta ke Medan misalnya, banyak pilihan maskapai, tidak seperti itu," kata Menag.
Mengganti maskapai membutuhkan proses yang panjang agar jamaah tidak terlantar. Dijelaskan, selama ini maskapai Garuda Indonesia tidak bisa mengangkut semua jamaah haji Indonesia. Sekitar 97 ribu jamaah diserahkan kepada Saudi Arabian untuk diangkut. Tapi masalahnya Saudi Arabian selama musim haji ini sudah lima kali mengalami keterlambatan.
"Jadi kalau kita putus, bisa terlantar. Ada kemungkinan puluhan ribu orang tidak bisa diberangkatkan karena Garuda juga tidak bisa serta merta mengganti," jelas Menag.
Kementerian Agama, lanjut Menag, sudah mengirim surat teguran dan memanggil
pimpinan perusahaan Saudi Arabian agar memperhatikan betul tentang ketepatan waktu pemberangkatan jamaah. Diingatkan agar keterlambatan tidak diulang lagi. Keterlambatan jamaah bisa berdampak sangat luas terkait masalah makanan dan pemondokan.
"Alhamdulillah ya semuanya bisa diatasi tapi sekali lagi kita memang berharap untuk tidak terulang lagi," kata Menag.
(iy/van)











































