Seperti yang dituturkan Waluyo, Kamis(4/11/2010), hampir sama dengan anggota tim Basarnas lainnya, pria beranak dua ini mengaku sering tinggal berjauhan dengan keluarga karena tuntutan pekerjaan yang diembannya.
"Ya, begini mbak. Jauh tapi Alhamdulillah keluarga mengerti," tukasnya sambil tersenyum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mengevakuasi jenazah yang telah lama mati.
"Pernah waktu itu di Papua saya mengevakuasi jenazah orang bule, kayaknya orang Swiss," tuturnya ketika ditanya pengalaman apa yang paling mengerikan selama menjadi tim Basarnas.
"Bulenya mabuk di pelabuhan terus kecemplung. Baru ditemuin setelah tiga hari mayatnya mengapung. Wah, bengkak banget mbak. Satu kantong mayat nggak cukup. Harus dua kantung," tambahnya.
"Mana dua matanya udah keluar terus waktu diangkat kepalanya menyumbul dan
menghadap saya. Ngeri pokoknya," ujar pria asal Cilacap ini.
"Awalnya takut lihat mayat apalagi kalau kondisinya sudah rusak, normal. Tapi ya setelah itu bismillah yang saya lakukan itu baik untuk menolong," kata pria yang mengenakan baju oranye khas tim Basarnas dan SAR.
Namun waluyo menuturkan apa yang dilakukannya sudah menjadi panggilan jiwa dan keluarganya cukup mengerti akan risiko tanggung jawabnya.
"Ya terkadang anak-anak saya protes kok bapaknya jarang pulang. Namun setelah dijelaskan bahwa pekerjaan saya untuk menghidupi keluarga, mereka mau mengerti," tambahnya.
Anak pertamanya sendiri adalah perempuan berusia 16 tahun sementara anak
keduanya masih sekolah dasar kelas tiga.
"Jaraknya jauh mbak, itu (anak kedua) anak bonus," kata Waluyo sambil tertawa.
Sambil berjalan menuju mushola Posko Pakem Sleman, Waluyo yang tengah menabung untuk berangkat haji ini menceritakan bahwa ia ikhlas dalam menjalankan tugas. Ia percaya bahwa takdirnya telah ditentukan Yang Maha Kuasa sebaik mungkin dan yang perlu ia lakukan hanyalah menjalankannya sebaik mungkin.
(feb/anw)











































