"Pada 29 Oktober ada gempa tremor dan vulkanik. Biasanya kan gempa cuma sekali dan kadang nggak ada. Tapi pada 29 Oktober itu ada tremor cukup lama dari pukul 02.38 WIT dini hari sampai pukul 08.00 WIT. Gempa vulkanik pada tanggal 29 Oktober ada 5 kali," ujar Ketua pos pengamatan Gunung Gamalama, Darno Lamane, di Ternate, kepada detikcom, Kamis (4/11/2010).
Diterangkan dia, pada 30 Oktober ada 2 gempa yang tercatat dan pada 31 Oktober ada 5 gempa yang dicatat. "Kemarin ada 3 kali gempa, dan barusan ada sekali. Jumlah gempanya memang fluktuatif," ucap Darno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengimbau agar masyarakat mengabaikan isu-isu yang menyesatkan. Karena bila status gunung berubah, maka pemerintah pasti akan segera menyampaikannya.
"Sekarang ini bagi masyarakat atau pengunjung jangan mendekati puncak gunung dalam radius 2 km," ucap Darmo.
Status waspada Gunung Gamalama telah ditetapkan sejak 2008 lalu. Hingga kini menurut dia, statusnya belum dicabut karena memang belum ada penurunan aktivitas. Gunung ini terakhir kali meletus pada 2003. "Saat itu abunya yang banyak, dan ada juga awan panas tapi kecil," kata Darmo.
Sementara itu Kepala Pengamatan Gunung Api daerah Barat, Hendrasto, menyampaikan hal yang sama. Ketika gunung dalam kondisi waspada, maka akan mengeluarkan asap tebal dan gempa vulkanik.
"Istilahnya sedang demam. Ada asap fumarol, warnanya putih karena banyak mengandung uap air. Terlihat jelas saat pagi apalagi kalau habis hujan. Karena angin belum banyak jadi tampak menunpuk, tapi kalau sudah siang terdorong pelan-pelan," kata Hendrasto.
Gunung Gamalama merupakan salah satu dari lima gunung api yang ada di Maluku Utara. Gunung lainnya adalah Gunung Gamkonora di Kabupaten Halmahera Barat, Gunung Ibu, dan Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, serta Gunung Kiebesi di Pulau Makian, Halmahera Selatan.
Gunung Gamkonora dan Kiebesi kini berstatus normal. Sedangkan Gunung Dukono berstatus waspada, dan Gunung Ibu berstatus siaga.
(vit/fay)











































