"Para pengungsi panik, karena saat itu hujan, ada kabut tebal, tiba-tiba ada awan panas di balik awan, warga panik, termasuk aparat yang panik, sama-sama tunggang langgang, padahal tidak apa-apa," ujar Ketua DPRD Sleman, Kuswanto kepada detikcom, Rabu (3/11/2010).
Sebelumnya warga di dua desa, Glagahrejo dan Kepuharjo berlarian menyelamatkan diri setelah terjadi semburan awan panas Merapi. Mereka takut dengan informasi semburan awan panas yang sangat besar. Bukan hanya itu, seluruh aparat serta petugas kesehatan yang bertugas juga ikut menyelamatkan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memberi bukti soal amannya kondisi di daerah tersebut, sebuah pertunjukan wayang digelar. Warga yang sebelumnya sempat mengungsi di Desa Wukirsari kini mulai kembali ke wilayahnya masing-masing.
"Tadi saya mantau ke sana, bersama Pak Bupati (Sleman, Sri Purnomo) dan Bu Wakil Bupati (Yuni Satia Rahayu), warga juga banyak yang dibarak untuk menyaksikan pagelaran wayang. Kita ke sana untuk memberikan semangat kepada warga bahwa sebenarnya desanya aman," papar Kuswanto.
Yuni Satia Rahayu menyesalkan kurangnya koordinasi di lapangan. Akibatnya, warga menjadi korban.
"Seharusnya yang berhak mengatakan mengungusi atau tidak itu aparat desa, karena strukturnya dari posko pusat ke kecamatan, lalu ke aparat desa sehingga yang berhak memberikan instruksi itu adalah aparat desa, di luar dari itu, yah kaya gitu kejadiannya," tandasnya.
(mok/mok)











































