Faisal Basri: Banjir dan Macet Buah dari Ketamakan

Faisal Basri: Banjir dan Macet Buah dari Ketamakan

- detikNews
Rabu, 03 Nov 2010 20:06 WIB
Jakarta - Banjir dan kemacetan di Jakarta menjadi permasalahan klasik yang tak kunjung selesai. Persoalan besar dua serangkai ini dinilai tidak akan rampung jika ketamakan dari elit politik tak juga sirna.

"Untuk mengatasi carut marutnya Jakarta diperlukan harmoni. Di Jakarta ini tidak ada, yang ada ketamakan dan rakus," ujar ekonom Faisal Basri.

Hal itu disampaikannya dalam dialog publik 'Banjir dan Macet Jakarta' oleh Departemen Perencanaan Pembangunan Nasional DPP Partai Demokrat di Hotel Formule 1, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (3/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banjir dan macet Jakarta disebabkan Jakarta ingin jadi pusat segalanya, pusat pendidikan, hiburan, budaya, ekonomi, tapi tidak pernah membuat ibukota menjadi 'pusat'. Hal ini lalu mengakibatkan perut Jakarta meletus jadi macet dan banjir," sambungnya.

Menurut Faisal jika elit politik yang juga melibatkan orang nomor satu di DKI Fauzi Bowo itu tidak tamak, maka kondisi di Jakarta akan menjadi lebih baik. Menurutnya ketamakan itu menyebabkan segala aspek kehidupan ada di pusat kota Jakarta.

"Masak di tengah kota ada tempat penyortiran sayur dan pemotongan hewan. Seharusnya tidak semuanya berada di pusat kota, biar tidak sumpek," cetusnya.

Menurut Faisal, solusinya adalah pemerintah Jakarta harus mau menanggalkan sikap tamaknya dan berbicara sama rata dengan pemerintah provinsi tetangga, seperti di Bekasi terkait dengan pembangunan industri yang mampu menyedot banyak tenaga kerja.

"Harusnya pemerintah Jakarta berdiskusi dengan kota Bekasi. Yok kita bikin industri bagus yang menyedot banyak tenaga kerja," imbaunya.

Faisal juga mengkritisi mengenai pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta yang tidak diimbangi dengan ditambahnya jaringan infrastruktur transportasi massal seperti kereta api.

"Yang dibangun bukan rehabilitasi atau renovasi rel kereta api, tapi busway dengan rute yang aneh. Busway harusnya dibangun dari jari-jari stasiun-stasiun itu. Tak perlu pembebasan tanah, tapi kalau tak ada itu kan tak ada proyeknya, tak ada uang masuk," sindirnya.

(fjr/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads