Indonesia Masih Butuh Ahli Penanganan Bencana?

Indonesia Masih Butuh Ahli Penanganan Bencana?

- detikNews
Rabu, 03 Nov 2010 15:52 WIB
Indonesia Masih Butuh Ahli Penanganan Bencana?
Yogyakarta - Rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengunjungi pos pengungsian Merapi di Desa Purwobinangun, Turi, Sleman, Yogyakarta. Ikut di dalamnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arief.

Saat ditemui detikcom di lokasi, Rabu (3/11/2010), Andi Arief menyatakan
bahwa pemerintah masih butuh ahli-ahli bencana mengingat Indonesia adalah negeri yang rawan bencana.

"Kami masih perlu beberapa ahli, untung awal Januari tahun depan program S2 ITB (Institut Teknologi Bandung) khusus penanganan bencana akan diadakan," tukas Andi yang mengenakan baju safari abu-abu itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andi juga mengungkapkan bahwa ahli yang benar-benar serius mempelajari karakter bencana di Indonesia hanya tujuh orang. Ia berharap bahwa universitas di Yogyakarta seperti Universitas Gdajah Mada (UGM) membuat program serupa untuk memperbanyak ahli penanganan bencana.

Namun berbeda seperti yang diutarakan Profesor Sudi Beakto selaku kepala Pusat Studi Bencana UGM saat dihubungi detikcom.

"Saya keberatan kalau dibilang ahli penanganan bencana hanya tujuh orang,
menurut saya itu hanya tim kecil," tukas profesor yang sekaligus sebagai anggota pengarah BNPB (Badan Nasional Penanganan Bencana).

Menurutnya hingga kini sudah banyak lulusan dari universitas pascasarjana yang mendalami khusus tentang karakter bencana di Indonesia.

"UGM sendiri telah memiliki program magister Geo-Information untuk manajemen
bencana dan itu sudah didirikan lima tahun yang lalu," tambahnya.

Profesor Sudi juga mengaku bahwa selama empat tahun terakhir ini, ia telah
meluluskan 60 mahasiswa pasca sarjana yang bisa dibilang mumpuni untuk memahami bencana-bencana yang terjadi.

"Banyak sekali yang kita pelajari mengenai pemahaman karakteristik bencana di Indonesia, sudah banyak ahlinya," tutupnya.

(feb/anw)


Berita Terkait