"Saya kira dia paling pas dan cocok jadi juru kunci yang baru," kata sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Haedar Nashir saat berbincang dengan detikcom, Rabu (3/11/2010). Haedar lebih senang menyebut Surono dengan 'Mbah Rono.'
Mengapa Mbah Rono menjadi sosok yang paling pas penggantikan Mbah Maridjan, Haedar tentu memiliki penilaian sendiri. Menurut Haedar, pria kelahiran 8 Juli 1955 yang mengambil gelar doktor di Prancis itu mampu mengharmoniskan hubungan manusia dan alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Haedar, jika Kraton Yogyakarta tetap memilih 'penjaga Merapi' dengan pola pikir yang sama seperti dulu-dulu, maka persoalan yang saat ini terjadi boleh jadi akan terulang lagi. Karena itu diperlukan orang yang bisa memberi penjelasan kepada warga tentang kondisi Merapi agar mereka mau mengungsi.
"Daripada kita terjebak pada situasi yang lama, angkat juru kunci baru tapi tetap dengan situasi sama, lebih baik kita cari formulasi baru," kata Haedar.
Haedar mengatakan, seorang juru kunci Merapi juga sebaiknya tidak tinggal di area berbahaya. Karena hal itu akan diikuti oleh warga lainnya. "Jangan tinggal di daerah berbahaya, nanti banyak yang mengikuti. Kita sebagai manusia yang berusaha untuk menghindari," katanya.
Lalu bagaimana dengan ritual-ritual Kraton? "Itu juga bisa dilakukan, tapi hanya sebatas itu saja, kalau aktivitas Merapi sudah naik, itu sudah otoritas ilmiah. Nah Surono kan memahami itu, jadi dia yang paling cocok," katanya.
(ken/asy)











































