Ari baru berusia 17 tahun. Dia menikah muda, seperti layaknya banyak warga di desanya, di Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten. Belum ada tanda-tanda kehamilan, sudah buru-buru harus ikut mengungsi karena erupsi Merapi. Dia dan suaminya harus bergabung dengan ratusan pengungsi lainnya yang disediakan di SDN 1 Keputran, Kemalang.
"Ya sudah sepekan ini libur to, Mas. Tempatnya ya hanya di ruangan ini untuk tidur berdesakkan dengan banyak orang kok," ujar Ari tersipu-sipu, saat ditanya tentang hubungan suami istri. Padahal hubungan suami istri adalah kebutuhan yang juga harus dipenuhi, apalagi bagi pasangan-pasangan muda yang masih bergelora.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lain lagi dengan Sarono, warga Petung, Sidorejo. Dengan blak-blakan dia mengatakan sangat membutuhkan tempat khusus bagi pasangan suami istri yang ingin menjalankan tugasnya itu.
"Terus terang saja, mengenai hal yang seperti itu ya tetap menjadi kebutuhan bagi siapapun, termasuk pengungsi ini. Seharusnya memang ada tempat khusus untuk itu, agar pengungsi ini tidak semakin stress," ujar Sarono.
Namun demikian Bupati Klaten, Sunarna, menganggap tak perlu ada tempat khusus seperti itu.Β Menurutnya, tidak ada urgensinya sehingga hingga saat ini tidak pernah dipikirkan untuk diadakan.
"Tak perlu lah, para pengungsi juga sudah lebih tahu cara memenuhi kebutuhannya sendiri. Ada banyak tempat kok," ujar Sunarna enteng.
(djo/djo)











































