Suasana penuh haru mewarnai pertemuan Rubiyatun dan Rugiyem di tempat pengungsian akhir (TPA) Tanjung, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (2/11/2010). Keduanya langsung berpelukan dan menangis bahagia.
Rubiyatun menuturkan, selama ini dirinya tinggal di rumah pamannya di Cangkringan, Sleman. Sementara ibu dan keluarganya yang lain tinggal di Desa Kaliurang, Magelang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya panik banget dan berusaha mencari ibu. Saya pernah mencoba masuk ke Desa Kaliurang tapi dilarang petugas," tutur Rubiyatun.
Tidak menyerah, dia kemudian mencoba mencari ibunya ke sejumlah tempat pengungsian. Beberapa orang yang ditanyainya mengaku tidak kenal atau tidak mengetahui nasib ibunya.
"Saya sampai tidur di beberapa pengungsian, bertanya-tanya ke beberapa orang, termasuk petugas penanganan bencana dan bapak-bapak tentara," papar Rubiyatun.
Sampai akhirnya dia mendatangi TPA Tanjung. Dan benar saja, sosok yang selama ini dicari-carinya ada di tempat itu. Pencarian panjang Rubiyantun pun berakhir.
"Saya kira keluarga saya sudah habis dan meninggal terkena awan panas. Sebab di televisi, kampung saya adalah kampung yang pertama diungsikan," ungkap Rubiyatun.
Perasaan Rugiyem juga tidak kalah gembiranya. Dia langsung memeluk erat anak pertamanya itu.
"Alhamdulillah. Saya bersyukur sekali masih bisa dipertemukan dengan anak ini oleh Gusti Allah," kata Rugiyem.
(djo/djo)











































