Darto Suwito, warga kampung Kadirejo, Desa Sidorejo, Kemalang, Klaten, sudah sepekan berada di pengungsian di SDN 2 Keputran, Kemalang. Namun demikian hampir setiap pagi dia harus naik kembali ke rumahnya untuk memberi makan dan merawat ternak sapi dan kambingnya.
Dia dan para tetangganya menolak anjuran Saltak Penanggulangan Bencana Kabupaten Klaten agar membawa serta hewan ternak ke pengungsian. Alasannya selain khawatir ternaknya stres akibat diusung paksa dan menempati lokasi baru yang terbuka, persediaan pakan rumput hijau di pengungsian juga sangat terbatas. Padahal ternak, terutama sapi, kurang suka jika hanya diberi bekatul dan jerami kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mau tidak mau kami harus beli. Satu ikat harganya Rp 8.000, padahal sehari setidaknya butuh tiga ikat untuk makan dua ekor sapi. Kadang-kadang kami iuran mencarter mobil pick up untuk mencari rumput di Kabupaten Sukoharjo. Rumputnya gratis karena menyabit rumput sendiri, tapi iurannya Rp 20.000. Paling-paling masing-masing dapat bagian rumput cukup dua hari untuk pakan dua ekor sapi," papar Darto, Selasa (2/11/2010).
Situasi itu lalu dimanfaatkan oleh para makelar ternak. Mereka mendatangi para pengungsi agar bersedia menjual murah ternak-ternaknya.
Jika dalam kondisi normal, harga sapi dewasa bisa mencapai sepuluh juta rupiah, dalam situasi seperti sekarang ini sapi mereka hanya dihargai delapan hingga sembilan juta rupiah. Padahal setiap menjelang Idul Adha, sapi dewasa harganya bisa mencapai sebelas hingga dua belas juta rupiah.
"Dalam kondisi sulit dan tak menentu seperti sekarang ini, biasanya warga yang akhirnya melepas ternaknya dengan harga murah," ujar Ny Parjo, seorang pengungsi lainnya. Yang dimaksudnya sulit dan tak menentu adalah kesulitan mencarikan pakan dalam kondisi erupsi Merapi yang tidak bisa diprediksi kapan berakhirnya masa pengungsian.
Mendengar keluhan warga tersebut, bupati Klaten, Sunarna, justru menyalahkan warga yang menolak ternaknya dievakuasi. Dia mengaku menyadari sepenuhnya bahwa ternak adalah tabungan kekayaan warga lereng Merapi, namun dia yakin ternak tidak akan stres jika dipindahkan ke tempat lain. Dengan begitu kekhawatiran sapi akan kurus karena dipindah-pindah, dinilai Sunarna, terlalu berlebihan.
"Saya tahu betul perilaku sapi. Stres paling-paling hanya dua hingga tiga hari, setelah itu biasa lagi dan gemuk lagi. Sapi juga tidak harus diberi rumput segar. Cukup diberi bekatul, sedangkan untuk kebutuhan serat bisa diganti dengan jerami. Jadi ya memang seharusnya dibawa turun saja, daripada menyusahkan warga karena harus naik turun ke pemukiman di kawasan rawan bahaya seperti itu," ujar bupati yang juga pengusaha ternak sapi tersebut, saat ditemui di Posko Keputran, Kemalang.
(djo/djo)











































