Bupati Sleman: Dana Tanggap Darurat Kurang Rp 12 Miliar

Bupati Sleman: Dana Tanggap Darurat Kurang Rp 12 Miliar

- detikNews
Selasa, 02 Nov 2010 13:37 WIB
Bupati Sleman: Dana Tanggap Darurat Kurang Rp 12 Miliar
Sleman - Masa tanggap darurat letusan Gunung Merapi yang belum diketahui akan berlangsung sampai kapan, membuat Pemda Sleman was-was. Penyebabnya adalah keterbasan dana tanggap darurat yang mereka anggarkan dalam APBD.

Kekhawatiran soal pendanaan pengungsi itu diungkapkan Bupati Sleman Sri Purnomo saat meninjau Posko Utama Pakem, Sleman, Selasa (2/11/2010).

"Kami telah hitung, total kebutuhan untuk 1 bulan tanggap darurat bencana Merapi sebesar Rp 21 miliar," ujar Sri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya jumlah dana yang tercatat di dalam APBD DI Yogyakarta dan Sleman, hanya senilai Rp 9 miliar. Artinya untuk tanggap darurat bulan pertama yang saat ini sedang berlangsung, menurut Sri, terjadi kekurangan Rp 12 miliar.

"Jadi yang bulan ini masih kurang Rp 12 miliar. Kalau masa tanggap daruratnya lebih dari 1 bulan, ya perlu lebih banyak lagi dananya," sambung Sri.

Dia menambahkan, perihal kekurangan sumber pendanaan ini sudah disampaikan kepada rombongan Komisi II dan Komisi VII DPR yang berkunjung ke Sleman, Senin (1/11). Menurutnya tanggapan yang diterima sangat positif.

"Saya sudah sampaikan semalam ke DPR, saya harap pengertian dari pusat dan itu ditanggapi positif," ujar Sri.

Dia membenarkan adanya donasi yang masih mengalir dari berbagai pihak untuk keperluan tanggap darurat. Nilai total donasi yang penyaluraannya dikoordinasikan dengan Pemda Sleman, sejauh ini masih dalam tahap pendataan.

"Kami usahakan juga akan ada publikasi dana-dana sumbangan yang masuk untuk kontrolnya. Supaya semua transparan dan sama-sama enaklah," jelasnya.

Sri membantah bahwa anggaran tanggap darurat tak sebesar anggaran untuk membiayai tim sepak bola sebagaimana yang terjadi di daerah lain. Meski mengaku tidak hafal nilai persisnya, dia memastikan anggaran untuk PSS Sleman yang merupakan kebanggaan warga Sleman dan DI Yogyakarta masih dalam batas kewajaran.

"Ah...kecil kok, tidak sebesar di daerah lain," jawabnya.

(lh/nrl)


Berita Terkait