Awan 'Petruk' di Merapi Tak Berarti Apa-apa, Hanya Mitos

Awan 'Petruk' di Merapi Tak Berarti Apa-apa, Hanya Mitos

- detikNews
Selasa, 02 Nov 2010 12:09 WIB
Awan Petruk  di Merapi Tak Berarti Apa-apa, Hanya Mitos
Jakarta - Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo mengimbau masyarakat di sekitar Merapi tetap tenang menyusul munculnya awan berbentuk Petruk yang menurut mitologi memiliki arti kurang menguntungkan.

"Asap seperti itu bisa berbentuk apa saja. Kalau ada yang mengatakan itu pertanda akan ada letusan yang lebih besar saya rasa itu hanya mitos saja," ujar Subandriyo saat berbincang dengan detikcom, Selasa (2/11/2010).

Suswanto (40), warga Srumbung, Magelang, mengabadikan awan yang berbentuk Petruk dengan bidikan kamera ponselnya pada Senin 25 Oktober selepas subuh. Sebagian sesepuh di desa tersebut mengartikan itu sebagai tanda bahwa akan ada letusan Merapi yang besar. Kepala Mbah Petruk yang menghadap ke selatan artinya musibah akan terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekadar diketahui, status Siaga Merapi diterapkan mulai 25 Oktober pukul 06.00 WIB. Merapi meletus esok harinya pukul 17.02 hingga menjelang 19.00 WIB dan merupakan letusan terdahsyat hingga sepekan ini.

Subandriyo menuturkan, bentuk-bentuk seperti itu (mirip Petruk) memang bisa terjadi akibat adanya kombinasi bayangan. Seperti pada letusan Merapi pada tahun lalu, asap letusan juga pernah menyerupai patung manusia.

"Dulu dari sisi utara asap berbentuk seperti patung manusia karena ada cahaya dari arah barat yang batu-batunya memberikan bayangan seperti itu. Dulunya juga waktu tsunami di Aceh pernah ada katanya awan berbentuk tulisan Allah," ceritanya.

"Tapi Insya Allah bukan berarti apa-apa," tegas Subandriyo.

Subandriyo menjelaskan, jika memang Merapi akan meletus dengan ledakan yang cukup besar, itu tidak dapat dicegah.

"Kalau memang mau meletus, kita tidak bisa menahan, mencegah. Yang penting sekarang kita lakukan adalah mitigasi bencana, bagaimana manajemennya agar bisa mengurangi risiko bencana dengan memberi mencegah gejala awal dan memberikan peringatan dini," kata dia.

Dalam situasi seperti ini, Subandriyo mengatakan, pemberdayaan masyarakat juga sangat penting daripada menginterpretasikan sesuatu hal yang sebenarnya adalah hal yang wajar.

"Dalam situasi psikologis seperti itu, apa saja bisa diartikan apa saja, maka itu kita yang dalam kondisi lebih baik harus bisa melihat itu secara rasional. Karena itu kalau tidak tertangkap kamera kan sebenarnya juga bukan hal yang apa-apa," bebernya.

Subandriyo menyadari, mitos seperti itu umumnya masih dipercayai warga. Dia menyarankan hal itu diartikan sebagai sesuatu hal yang menghibur saja.

"Masyarakat kota saja suka mitos, apalagi masyarakat desa," ujarnya.
(lia/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads