"Hasil pemeriksaan mata yang kita lakukan hingga hari Minggu 31 Oktober kemarin, sekitar 25 persen mengalami iritasi mata. Jumlah ini bisa bertambah karena Senin siang Merapu kembali erupsi," kata ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) DIY Prof.Dr. dr. Suhardjo, S.U.,Sp. M (K) di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Senin (1/11/2010).
Suhardjo mengatakan tim dokter spesialis mata dar Fakultas Kedokteran UGM
bersama Perdami DIY dan RS Mata dr Yap Yogyakarta telah melakukan pemeriksaan mata di sejumlah barak pengungsian. Pemeriksaan dintaranya dilakukan di balai desa Wukirsari Cangkringan dan Hargobinangun Pakem Sleman. Hasil sebagian besar pengungsi mengalami iritasi mata (konjugtivitis).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
berat. Hujan abu yang melanda daerah kawasan lereng Merapi juga tidak menyebabkan adanya persoalan serius.
"Memang belum semua barak pengungsi kita periksa. Namun kebanyakan yang kita periksa hanya mengalami iritasi. Ada satu dua orang yang kemasukan pasir, tapi sudah kita keluarkan dari matanya,"Β ungkap Hardjo panggilan akrabnya.
Meski abu vulkanik mengandung unsur kimia berupa sulfur dan senyawa lainnya kata Hardjo, hal itu tidak terlalu membahayakan kesehatan mata. Dia menyarankan agar pengungsi selalu memeriksakan matanya apabila terjadi gejala-gejala sakit mata.
"Kita siap membantu, bila terasa ada sesuatu yang mengganjal di mata, terasa
gatal, penglihatan agak kabur dan mata merah, segera untuk diperiksa dan segera kita obati," katanya.
(bgs/mad)











































