"Hasil penelitian petugas lapangan, di sekitar lereng tingkat kerusakan akibat terjangan awan panas memang cukup parah. Petugas lapangan telah disebar mengukur suhu dan abu vulkanik dari lokasi untuk diteliti di laboratorium sesaat setelah ada letusan Merapi," ungkap Subandrio di kantor BPPTK di Jl Cendana Yogyakarta, Senin (1/11/2010)
Menurut Subandrio, proses erupsi Merapi sejak erupsi Selasa 26 Oktober 2010 hingga sekarang belum selesai. Adanya letusan eksplosif yang cukup besar pekan lalu merupakan awal rangkaian fase krisis Merapi tahun 2010 ini. "Proses ini belum selesai. Masih ada potensi terjadi lagi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumbatan material lava itu yang mengakibatkan adanya letusan lanjutan pada Sabtu
(30/10) dinihari.
"Sumbatan yang ada mengeras dan akibatnya terjadi akumulasi tekanan eksplosif. Kekuatan energinya setengah dari letusan yang pertama," katanya.
Menurut dia, pemantauan saat ini lebih mengandalkan pencatatan aktivitas seismik
karena prisma di lereng Merapi belum bisa diganti akibat adanya lontaran material ke segala arah. Hasil pengamatan kubah lava tahun 1911 yang berdekatan dengan kubah lava 2006 memang belum tergoyahkan.
"Dari indikator pemantauan, saat ini ada tekanan akumulasi energi masih cukup
besar. Kita sekarang tengah melakukan pemetaan bahan jatuhan dari proses erupsi
apa saja. Volume berapa banyak material yang telah dikeluarkan Merapi masih
belum kita hitung," ungkap Subandrio.
(bgs/mad)











































