Terombang-ambing di Tengah Ganasnya Samudera Hindia

Terombang-ambing di Tengah Ganasnya Samudera Hindia

- detikNews
Senin, 01 Nov 2010 17:50 WIB
Terombang-ambing di Tengah Ganasnya Samudera Hindia
Mentawai - Hujan deras mengguyur Samudra Hindia di perairan Mentawai, Sumatera Barat. Sepanjang mata memandang, kabut menutup pandangan. Dan deru ombak terus membuncah, memekakkan telinga.

Di antara itu semua, detikcom bersama tim TERRA ( Telkomsel Emergency Respons and Recovery Activity) menembus samudra Hindia, menuju Dusun Muntai, Jumat (29/10/2010) lalu.

Sepanjang mata memandang, dinding ombak terus menghantui. Sampan kecil yang ditumpangi pun meliuk menghindari ombak yang bisa sewaktu-waktu membalikkan seisi sampan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai satu jam lebih, sampan kecil pun sampai di pantai yang dikelilingi karang. Setelah survei lokasi bencana guna pemasangan penguat sinyal, kami harus segera kembali. Menghindari gelap yang segera datang.

“Nenek moyangku, seorang pelaut,” canda salah seorang tim memecahkan kebekuan suasana.

Namun, baru berjalan 20 menit atau 2 mil dari bibir laut, tiba-tiba
baling-baling berhenti berbunyi. Semua diam.

“Pen baling-baling-nya patah,” ujar nakhoda yang kami juluki Marcopolo.

“Apa ada serepnya?” tanya tim yang lain.

“Tidak ada,” jawab Marcopolo pendek yang langsung disambut dengan menarik dayung yang berada di ujung kakinya.

Seketika, seisi kapal diam. Yang terdengar, hanya angin, hujan dan
ombak laksana tembok setinggi rumah.  Tak ada pilihan, jika kembali ke pantai, dipastikan kapal akan hancur terhempas ombak dan karang. Jika dengan dayung, bisa-bisa kami tergulung ombak. Lalu, hanya doa yang bisa kami lakukan.

Dan, doa tersebut menghasilkan hasil. Di ujung ombak, meski sangat kecil, kami bisa melihat Kapal Polair Antasena. Skipper sampan kami langsung
melambai-lambaikan pelampung yang berwarna kuning cerah. Itu pun tak sekali
berhasil. Hampir 15 menit lamanya. Ketika kami melambaikan, ombak naik menutup pandangan. Begitu sebaliknya. Hingga anggota polisi yang berada di Kapal Polair Antasena melihat kami dan mengirim boat untuk mengevakuasi kami.

Perlahan tapi pasti, sampan kami yang hanya berkekuatan mesin 15 PK ditarik
dengan boat polisi yang berkekuatan 40 PK. Usai berlabuh di Kapal Polair Antasena, kami akhirnya menarik nafas panjang.

Keganasan Samudra Hindia ini terbukti dengan tenggelamnya kapal PLN yang hendak memasang genset di Muntai, Sabtu lalu. Dalam kecelakaan tersebut, 12 awak selamat. Namun tak ada satupun peralatan yang berhasil diselamatkan. Sedangkan kapal cepat yang membawa relawan Telkom yang hendak pulang ke Padang, minggu kemarin, harus balik badan karena ombak yang tak bisa ditolerir. Adapun Kapal Roro Barau yang biasa menempuh 14 jam perjalanan Sikakap-Padang, kini bisa mencapai 24 jam perjalanan.

(asp/mad)


Berita Terkait