"Acaranya keren, walaupun setiap peserta sudah ditentukan tempat-tempat yang akan dikunjungi, tapi kita diberi kebebasan untuk mengeksplor tempat yang lain yang dinilai sangat menarik," ujar Wahid, seorang pegawai negeri sipil asal Malang, ketika dihubungi detikcom, Senin (1/11/2010).
Wahid mendapat kesempatan ke Aceh, dan berangkat bersama rekan satu timnya Taufik Nur asal Yogyakarta. "Acara ACI seperti ini pastinya dapat meningkatkan rasa cinta terhadap Indonesia. Kita dikirim ke satu tempat dan kita dapat mengeksplornya. Bukan karena tempatnya, tapi bagaimana kita belajar melihat potensi suatu daerah yang sangat potensial. Dan kita jadi banyak belajar mengenai hal tersebut dari ACI," sambungnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun kegiatan ACI telah berlalu, namun banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan Wahid selama hampir dua minggu menjelajahi Aceh. Bahkan sampai saat ini, Wahid masih terkagum-kagum dengan keindahan salah satu pantai di Pulau Bereuh. "Ketika saya sampai di Pantai Lambaro, saya benar-benar menangis. Mungkin kalau orang bilang termehek-mehek," ujarnya tertawa.
"Saya sampai bilang gila pantainya begitu cantik dan bagus banget. Di belakang pantainya ada teluk. Pastinya gak akan ada dua laut di satu tempat, kecuali di Pantai Lambaro. Pantai Lambaro berhadapan langsung dengan Pantai Serapong jadi ombaknya besar dan cocok untuk surfing, pasirnya juga putih," tutur Wahid
"Kalau ingin melihat sunset kita dapat menikmatinya di Pantai Lambaro, sedangkan di Pantai Serapong kita dapat melihat sunrise. Benar-benar pemandangan yang sangat kontras dan sangat berkesan," sambungnya.
Disinggung mengenai keamanan Aceh, Wahid cepat-cepat menjawabnya. "Ah itu kan hanya masa lalu. Aceh yang sekarang beda dengan Aceh yang dulu. Di sini kita akan menemui kembali keramahtamahan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, memegang teguh sendi-sendi agama Islam, dan pastinya sangat aman. Gak ada tuh yang namanya separatisme," ujar Wahid tertawa.
Sebagai penutup cerita perjalanannya selama di Aceh, Wahid tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada ACI yang telah memberikan kesempatan karena telah mengirimnya ke Aceh. "Bagi saya ACI itu amazing racenya Indonesia tapi gak ada batas waktu. Dan detikcom sudah mempeloporinya. Saya menyebut ACI sebagai amazing journey," tegasnya.
Pengalaman para peserta ACI dapat dilihat di Jurnal Petualang ACI.
Program Aku Cinta Indonesia ini didukung penuh oleh XL, Sinarmas, Nexian, Garuda Indonesia, dan Optik Seis.
(lom/lom)











































