Suasana di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Pakem, Minggu (31/10/2010), terlihat lebih ramai dari beberapa hari terakhir pasca letusan Merapi. Pagi itu, dalam cuaca mendung menggelayut, ada sejumlah mobil dan motor yang parkir di halaman gereja.
Pemiliknya datang bukan dalam rangka ibadah rutin, namun untuk menghadiri prosesi pemberkatan pernikahan Laurensius Fitria Yulianto dengan Linda Okta Kusumawati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wajah kedua mempelai tampak sumringah dengan senyum yang selalu mereka tunjukkan kepada sekitar 100 tamu yang hadir.
Satu setengah jam berlalu, prosesi pemberkatan nikah pun rampung. Fitria dan Linda keluar dari gereja, dan kini mereka telah sah sebagai suami istri. Senyum yang mereka sunggingkan pun lebih lebar dari sebelumnya.
Mobil sedan hijau metalik yang difungsikan sebagai mobil nikah telah menanti di halaman gereja. Fitria dan Linda duduk di jok belakang. Pasangan bahagia ini pun segera meluncur ke lokasi resepsi.
Resepsi pernikahan digelar di kediaman ibunda Linda, Siti Supriyantini, di Dusun Randu, Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Jaraknya sekitar 3 km dari Posko Pengungsian Merapi di Balai Desa Hargobinangun.
Di sekitar lokasi resepsi, masih tampak sedikit abu vulkanik sisa hujan abu pada Sabtu (30/10/2010) dini hari. Para tamu yang telah hadir pun banyak yang bermasker. Beberapa kendaraan yang diparkir di halaman masih tampak kotor oleh abu vulkanik yang menempel.
Tak ada sesuatu yang berbeda dalam pesta ini. Pelaminan dan kursi-kursi telah disiapkan, makanan untuk jamuan para tamu telah tersaji, dan sebuah grup organ tunggal lengkap dengan biduannya pun telah siap menghibur para tamu yang hadir.
Yang membuat pesta pernikahan Fitria dan Linda adalah suasana di lingkungan mereka. Sekitar 15 km dari lokasi resepsi, Gunung Merapi tengah 'marah'. Bahkan, sang Merapi kembali memuntahkan wedus gembel di saat pesta pernikahan dihelat.
Meski dibalut suasana kebahagiaan karena baru saja menikahi gadis pujaannya, Fitria mengaku tetap saja was-was.
"Ya, dag-dig-dug. Khususnya pas acara di gereja tadi. Saya takut pas pemberkatan ada apa-apa," tutur lelaki 28 tahun ini saat berbincang dengan detikcom, sebelum naik ke pelaminan.
Fitria mengaku, ia dan Linda sebelumnya telah berpacaran selama satu tahun. Mereka bertemu di sebuah pesta pernikahan teman mereka di Klaten, Jawa Tengah.
Untuk pernikahannya ini, ia telah mempersiapkannya sejak tiga bulan yang lalu. Pria yang bekerja di Lapas Narkotika Yogyakarta ini pun menegaskan tak ada perubahan rencana meski dalam beberapa waktu terakhir kondisi Merapi makin gawat.
"Pasrah aja Mas," ujar pemuda yang berdomisili di Pakem ini.
Sementara Linda tampak lebih rileks saat ditanya komentarnya terkait Merapi yang masih ganas di tengah pesta pernikahannya. "Biasa aja Mas. Pasrah lah," tegas wanita berparas ayu ini.
Senada dengan pernyataan anaknya, Siti Supriyantini mengaku resepsi pernikahan Linda dan Fitria akan tetap digelar dalam kondisi apa pun.
"Kalau sampai ada apa-apa saat resepsi, saya siap menyumbangkan semua konsumsi yang ada kepada para pengungsi," ujar Siti.
"Memang ada beberapa tamu yang batal hadir karena musibah kemarin. Tapi saya maklum," tambahnya.
Saat ditanya soal rencana bulan madu, Fitria dan Linda tampak saling lirik sambil tersipu malu. "(bulan madu) ke Jakarta Mas. Sambil lihat banjir," kelakar Fitria sambil menutup perbincangan.
(irw/irw)











































