3.245 Anak Pengungsi Merapi Mendapat Terapi Psikologi

3.245 Anak Pengungsi Merapi Mendapat Terapi Psikologi

- detikNews
Minggu, 31 Okt 2010 17:37 WIB
3.245 Anak Pengungsi Merapi Mendapat Terapi Psikologi
Magelang - 3.245 Anak yang merupakan pengungsi Merapi mendapatkan terapi psikologi selama di pengungsian. Program terapi psikologi ini dilakukan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Kementerian Sosial bersama 17 lembaga lainnya.

17 Lembaga tersebut antara lain Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Himpunan Mahasiswa Psikologi Indeonsia (HIMPSI), Forum Peduli Anak Bali (FPAB), Forum Peduli Anak Cacat (FPAC) dan lainya.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Pelayanan Sosial Anak Kementerian Sosial RI Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat, kepada detikcom saat ditemui di tempat pengungsian sementara di Gedung Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Desa Soko, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (31/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami membuat membuat 'Pondok Ceria Anak' di beberapa pengungsian untuk memberikan terapi anak-anak dengan cara bermain, simulasi dan belajar ringan," kata Harry.
 
Harry menyatakan ada 95 relawan yang turun untuk memberikan terapi kepada ribuan anak-anak kroban letusan Gunung Merapi. "Sebanyak 95 relawan itu kami sebar baik di Magelang maupun di Yogya," sambungnya.

Di Yogya, jumlah anak yang mengalami trauma psikologis mencapai 1.645 anak. Mereka berada di tujuh titik pengungsian utama yang tersebar di beberapa kabupaten. Untuk di Magelang, sampai saat ini tim masih melakukan sweeping dan pemetaan terhadap jumlah pengungsi yang masih dilakukan di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Dukun dari tiga kecamatan yang ada.

"Sampai hari ini kami sudah melakukan sweeping dan pemetaan terhadap anak pengungsi yang ada di dua kecamatan yaitu Kecamatan Sawangan dan Dukun," kata Harry.

Data terakhir saat ini ada sebanyak 1.600 anak pengungsi Merapi di Magelang yang
mengalami trauma psikis akibat terjadinya bencana letusan Merapi. "Jumlah itu bisa bertambah seiring perkembangan tim dari TRC Peduli anak melakukan sweeping dan pendataan keberadaan anak pengungsi Merapi," sambungnya.

Selain melakukan kerjasama dengan 17 organisasi yang peduli dengan anak, TRC Depsos
juga menggandeng Unicef Jateng-Yogyakarta selama melakukan terapi psikologi anak
pengungsi Merapi.

"Unicef akan datang hari ini dengan memberikan beberapa fasilitas atau alat untuk
melakukan terapi," ucap Harry.
 
Pantauan detikcom di pengungsian Gedung KPRI Kecamatan Dukun, Magelang, ratusan anak mendapatkan upaya terapi psikolgi. Mereka diajak bermain dan belajar serta diberikan beberapa hadiah jika beberapa anak-anak dari lereng Gunung Merapi ini bisa menebak pertanyaan atau kuis yang diberikan oleh Heni Tanoe yang merupakan relawan dari Komnas Anak Jakarta.

"Saya sangat senang, bisa bermain bersama-sama dengan banyak teman apalagi
mendapatkan hadiah dari kakak-kakak," ujar Anjar (13) salah seorang anak dari Desa
Ngargosuko, Kecamatan Dukun, Magelang.

Pengungsi Merapi Membengkak


Berdasarkan data Saklak Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang jumlah pengungsi terus bertambah hingga menembus angka 39 ribu jiwa. Padahal pada saat erupsi Merapi pertama terjadi pada Selasa (26/10) jumlah pengungsi sebanyak 28.700 orang.

Setelah erupsi 28 Oktober, jumlah pengungsi naik menjadi 37.852 orang dan kini sudah mencapai 39 ribu jiwa. Siang ini sekitar pukul 14.00 WIB, Gunung Merapi kembali meluncurkan wedus gembel ke arah Yogyakarta. Luncuran awan panas ini dikhawatirkan akan membuat masyarakat ramai-ramai memadati lokasi pengungsian.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang Drs Eko Triyono menyatakan jumlah pemgungsi terus bertambah karena warga ketakutan dengan peningkatan aktifitas Gunung Merapi.

"Awalnya hanya wanita dan anak-anak yang mengungsi namun mereka yang kemarin menolak mengungsi sekarang sudah mau. Bahkan warga di luar KRB III juga ikut mengungsi," kata Eko.

Eko menyatakan tambahan pengungsi baru itu ditampung di sejumlah TPS seperti Balai
Desa Gunungpring (Muntilan), SD Negeri 1 Srumbung, Balai Desa Sudimoro Srumbung),
SMP Sudimoro (Srumbung), Balai Desa Gondowangi (Sawangan), Balai Desa Gulon dan
Lapangan Jumoyo (Salam).

Kepala Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Sungkono mengatakan, pihaknya menampung 1.500 pengungsi dari Desa Kaliurang, Srumbung. Namun Sabtu dini hari kemarin pihaknya kedatangan 800 pengungsi dari Desa Srumbung, dan Ngablak, Kecamatan Srumbung. Mereka  datang berbondong-bondong untuk mencari perlindungan. Setelah subuh, 600 orang pergi kembali ke lokasi pengungsian asal, dan 200 warga meminta izin bertahan di TPS Jumoyo.

"Sebenarnya kami mau menerima mereka namun kondisi TPS Jumoyo sudah penuh sesak. Karena itu, permintaan mereka terpaksa kami tolak dengan halus," jelas Sungkono.

Kepala Desa Gulon, Kecamatan Salam Kuswiranto juga menyatakan hal yang sama, menurutnya kapasitas  Balai Desa Gulon sudah penuh sesak sehingga mereka disebar ke
titik lain.

Para pengungsi tersebut ditampung di sejumlah lokasi di Desa Gulon seperti SD Negeri
Gulon 1, SD Negeri Gulon 2, SMP Negeri 1 Salam, aula Dusun Dangean dan gedung milik
warga. Meski jumlah pengungsi melonjak drastis namun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang tetap optimis mampu memenuhi kebutuhan logistis pengungsi.
 
"Berapa pun kebutuhan pengungsi kami siap," kata Eko.

(vit/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads