"Itu ngawur aja itu, itu ngawur aja. Sudah saya bantah. 10 KM saja tidak sampai kok 20 Km. Itu nggak ada konfirmasi sebelumnya ke saya," ujar Kepala PVMBG Surono ketika ditemui di Puskesmas Pakem, Sleman, Yogyakarta, Sabtu 30/10/2010).
Bila tidak mengerti tentang istilah teknis, dia menegaskan agar melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Media jangan membuat berita sensasi di saat bencana seperti ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu menyesalkan adanya media yang salah memberitakan itu.
"Kita sesalkan hal itu, sebaiknya media tidak memberitakan berita yang semakin membuat resah masyarakat. Masyarakat itu sudah jadi korban Merapi, jangan ditambah jadi korban lagi karena berita," ujar Yuni saat dihubungi wartawan, Sabtu (30/10/2010).
Menurut Yuni, dirinya sangat senang dengan adanya media yang memberitakan peristiwa Merapi yang membuat bantuan mengalir ke Sleman. Namun adanya pemberitaan yang tidak benar terkait letusan gunung Merapi justru membuat warga menjadi panik dan resah.
"Sebaiknya kalau memang tidak tahu persis soal wedus gembel atau awan panas tidak diberitakan, daripada membuat panik warga," pinta Yuni.
Sebelumnya suatu media massa televisi dalam siaran langsungnya menyiarkan bahwa ada awan panas yang turun dari puncak Merapi dini hari tadi mencapai radius 20 Km. Hal itu kontan langsung dibantah oleh Kepala PVMBG Surono.
(nwk/nwk)











































