Abu Vulkanik Beterbangan, Dapur Umum Sulit Memasak untuk Pengungsi

Abu Vulkanik Beterbangan, Dapur Umum Sulit Memasak untuk Pengungsi

- detikNews
Sabtu, 30 Okt 2010 11:37 WIB
Abu Vulkanik Beterbangan, Dapur Umum Sulit Memasak untuk Pengungsi
Jakarta - Aktivitas gunung Merapi pada dini hari ini menyebabkan hujan abu di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Tumpukan abu pun mulai menganggu aktivitas warga, termasuk penyiapan makanan bagi pengungsi.

Ini terjadinya setidaknya di pengungsian desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Abu yang tertiup angin mengotori bahan-bahan makanan dan anggota TNI yang bertugas di sana pun bergegas-gegas menutupinya.

"Jadi susah masak, tapi kalau tendanya ditutup hawa jadi panas. Padahal sebentar lagi jam makan siang," terang Serda Andika kepada detikcom di tenda dapur umur, posko desa Hargobinangun, Jl Kaliuang, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (30/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andika dan beberapa anggota Kodim dan Korem lainnya memang ditugaskan untuk menyiapkan makanan jatah makan siang. Sebanyak 4000 porsi makanan siang ini harus dihidangkan untuk pengungsi dan petugas SAR di lokasi pengungsian.

"Abu-nya mengganggu sekali, masak jadi lambat karena bahan makanan harus dicuci berulang-ulang kalau kotor," imbuhnya.

Abu vulkanik dan pasir akibat semburan merapi juga menutup seluruh atap, pohon, kendaraan, dan aspal di jalan Kaliurang. Alhasil setiap kendaraan yang melintas malah membuat abu beterbangan.

Pengendara dan warga semuanya mengenakan masker untuk menutup hidung dan mulut. Beberapa warga mencoba menyiram aspal dengan air di sekitar pengungsian.

Namun tebalnya abu membuat jalan aspal menjadi licin saat dilintasi kendaraan terutama roda dua.

"Tadi sudah ada tiga sepeda motor yang jatuh di sini karena ban nya selip. Jalan jadi licin, tapi kalau tidak disiram ngebul mas," ujar salah seorang warga Sarpono yang jadi merasa serba salah.

Petugas kepolisian, TNI dan beberapa warga pun mencoba memberi peringatan kepada pengendara yang melintas agar memperlambat laju kendaraannya.

"Alon-alon (pelan-pelan) mas, ndak tibo (nanti jatuh)," ujar Sarpono saat memperingati warga yang melintas dengan mengayunkan tangannya.

(her/lh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini