Demikian yang Sri Sultan Hamengkubuwono X sampaikan ketika meninjau pengungsian di Umbulharjo, Sleman. Dia didampingi permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, tiba kurang lebih pada pukul 17.00 WIB, Jumat (29/10/2010) dan 15 menit kemudian meninggalkan lokasi.
"Pengungsi juga butuh hiburan, seperti campursari dan sebagainya," ujar Sri Sultan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini variasi makanan jangan lupa agar nggak bosan. Ada daging, ayam dan ikan. Tapi sesuaikan dengan selera pengungsi," wanti Sri Sultan.
"Nggih... (Ya...)," balas ibu-ibu serempak.
Sementara GKR Hemas memilih berinteraksi dengan para pengungsi. Di sela-sela dialog, tiba-tiba seorang ibu menubruk dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
Di dalam tangisnya si ibu mengaku tempat tinggalnya di dusun Kinahrejo bertetangga dengan Mbah Maridjan. Seperti diketahui juru kunci Gunung Merapi itu ditemukan tewas tersengat awan panas bersama belasan orang lainnya yang tidak sempat menyelamatkan diri.
"Mamulo nek dikhon medhun, yo medhun. Ojo ngeyel (Makanya bila diminta turun dari lereng Gunung Merapi ya segera turun. Jangan membantah)," bahas GKR Hemas sembari mengusap-usap punggung tetangga Mbah Maridjan (almarhum) itu.
Sebelum meninggalkan penngungsian, Sri Sultan dan GKR Hemas menyapa anak-anak yang sedang bermain-main di halaman pengungsian. Tempat penampungan pengungsi yang digunakan adalah gedung pertemuan desa dan sekolah.
Hingga H+3 letusan, di pengungsian belum juga didirikan sekolah darurat. Sayangnya, tidak adanya fasilitas yang sebenarnya juga bisa berfungsi sebagai sarana menghindarkan anak-anak korban bencana dari depresi. Hal ini seolah kalah penting dibanding hiburan campursari sebagaimana Sri Sultan pesankan.
(lh/fay)











































