Jantung untuk Indonesia dari Belgia

Laporan dari Lanaken

Jantung untuk Indonesia dari Belgia

- detikNews
Jumat, 29 Okt 2010 18:33 WIB
Jantung untuk Indonesia dari Belgia
Lanaken - Menampilkan komposisi musik etnik Indonesia dan moderen serta paduan tari, konser yang melibatkan kardiolog Indonesia dan komunitas dokter Lanaken itu merebut hati publik.

Digelar dua hari berturut-turut, konser dan pagelaran kesenian Indonesia bertema Een Hart Voor Indonesiaย (Jantung untuk Indonesia, red) di Gedung Kesenian kota Lanaken, Belgia, (22-23/10/2010), itu dimaksudkan untuk semakin mendekatkan masyarakat kedua bangsa dan peduli kemanusiaan.

Acara dibuka oleh Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Arif HAVAS Oegroseno, dihadiri Ketua Dewan Kotapraja Lanaken Marino Keulen, mantan Menteri Vlaams Urusan Dalam Negeri, kardiolog asal Indonesia dr John Prihadi, serta komunitas dokter Lanaken.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

โ€œIndonesia dikenal luas dengan kekayaan budaya. Upaya kardiolog dr John Prihadi, sebagai warga Belgia kelahiran Indonesia, patut dihargai dan mendapat dukungan," ujar Dubes Oegroseno dalam sambutan berbahasa Inggris diseling bahasa Belanda.

Lanjut Dubes, acara bersama dengan medium kebudayaan ini dapat memperluas pengenalan Indonesia kepada masyarakat Belgia di wilayah Vlanderen, sekaligus sebuah ekspresi luas budaya toleran Indonesia.

Seperti dituturkan Minister Counsellor Pensosbud/Diplomasi Publik KBRI Brussel PLE Priatna kepada detikcom, pagelaran dengan kolaborasi tarian, musik dan kuliner tersebut bertumpu pada Ciatt Band, dengan formasi musisi berbakat Made Wardana (suling dan gamelan Bali), Andre Patikawa (lead gitar), Sigit Widiyanto (keyboard), Didi Hidayat dan Fais (bass), Satria (drum).

"Kita tunjukkan bahwa seni budaya Indonesia tidak melulu tradisional, tetapi juga sudah lebih maju sebagaimana perkembangan musik di Eropa," terang Priatna.

Selain lagu-lagu yang sudah familiar dengan warga setempat, Ciatt Band antara lain menampilkan lagu hit Menunggu, Kebyar-Kebyar dengan dominasi etnik Bali, dan Paduarsa, sebuah komposisi musik bawah air dipadu gamelan Jawa.

"Di samping seniman kita, juga tampil grup Gamelan Bali bernama Saling Asah yang awaknya adalah orang-orang bule Belgia pecinta kebudayaan Indonesia. Ini bukti misi kebudayaan kita cukup berhasil," demikian Priatna. (es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads