"Saya pertama pikir ini berat, Jakarta berat. Karena keberhasilan yang dicapai Pak Condro luar biasa, saya butuh treat khusus. Untuk mencapai titik keberhasilan seperti Pak Condro, saya berat," kata Roycke dalam acara ramah tamah dengan media di Jakarta, Jumat (29/10/2010).
Serah terima jabatan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya baru akan dilakukan pada Sabtu (30/10) besok di Balai Pertemuan Metro Jaya (BPMJ) pukul 07.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan karir Roycke dalam bidang lalu lintas cukup panjang. Sebelum dipindah ke Polda Metro, Roycke menjabat sebagai Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Timur.
"Sebelum di Polda Jatim, saya menjaba sebagai Wadirlantas Polda Sumut, lalu pindah ke Manado dan pindah lagi ke Polda Sumatera Utara sebagai Dirlantas, baru ke Jawa Timur dan sekarang di Polda Metro," jelasnya.
"Kalau Pak Condro 5 kali jadi Dirlantas. Saya baru 3 kali. Nah inilah kenapa berat," lanjutnya.
Sebagai polisi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, dirinya sadar betul jika Polantas tidak selalu mendapatkan pujian. "Mendingan di luar jelek, di dalam baik. Ibarat luka di luar lebih cepat diobati daripada luka di dalam," katanya.
Saat ditanya bagaimana menghadapi situasi lalu lintas di Jakarta yang sering macet, Roycke belum berani bicara panjang lebar. "Yang pasti harus lebih baik," ujarnya.
Sementara itu, Condro Kirono berpesan kepada Roycke untuk tidak alergi terhadap media.
"Media yang nakal dengan kritikannya, jangan alergi sama kritikan media," kata Condro.
Bagi Condro, Pertanyaan wartawan yang terus mendesak, membuatnya berinisiatif. Dia mencontohkan saat ditanya persiapan dalam menghadapi even lebaran.
"Ditanya apa persiapan lebaran, saya langsung jawab cek poin. Padahal, kita belum apa-apa, baru kami rapatkan. Karena kalau tidak, kami akan malu, nanti ditanya lagi sama wartawan, mana cek poinnya," akunya.
Condro mengakui, media berperan aktif dalam mensosialisasikan peraturan maupun kebijakan baru dalam lalu lintas. Ia mengapresiasi media yang telah menjembatani kebijakan-kebijakan dalam lalu lintas.
"Polantas tersosialisasi aktivitasnya lebih banyak di media, artinya sekian banyak masyarakat yang baca media itu akan pahami dan tersosialisasi aturan lalu lintas kita," ujarnya.
(mei/mad)










































