Pernyataan itu disampaikan oleh Retiyo (52) petugas Pos Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah Kamis (28/10/2010) setelah melakukan komunikasi dengan Pos Jrakah, Boyolali.
“Ada luncuran awan panas tetapi tekanannya sedang mengarah ke Kaligendol,” tegas Retiyo setelah menanyakan kepada Safari (42) petugas Pos Ngepos yang melakukan pengamatan di menara pemantauan Merapi Pos Ngepos.
Retiyo menyatakan luncuran awan panas bisa dilihat dan mempunyai ciri-ciri coklat kehitam-hitaman dan bisa terjadi dikarenakan ada guguran lava maupun erupsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengakibatkan hawa panas di sekitar pos Pengamatan Ngepos, luncuran awan panas juga berdampak pada terjadinya hujan abu beberapa desa di radius 15 km dari puncak.
Warga yang berada di tiga desa di Kecamatan Dukun diantaranya di Desa Ngargomulyo, dan Sungai Kalibening serta Desa Wates, dan sekitarnya di Kabupaten Magelang mengaku merasakan terjadinya hujan abu vulkanik tipis.
“Padahal hujan tetapi hawanya panas mas,” kata Wawan Salah seorang warga.
Wawan mengatakan awan panas itu dirasakan di desanya. Akibatnya beberapa penduduk ke luar dari rumahnya.
Namun, setelah terjadi hujan abu tipis disertai gerimis warga berhamburan masuk ke rumah mereka masing-masing. “Warga yang beraktivitas masuk ke rumah karena takut,” tegas Wawan.
Untuk data aktivitas Merapi pada pukul 00.00-12.00 WIB, terjadi guguran lava sebanyak 78 kali. Sedangkan gempa multi phase sebanyak 48 kali, gempa vulkanik dalam 13 kali, gempa vulkanik dalam kosong, dan gempa tektonik satu kali.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Wakil Bupati Sleman Yuni Satya Rahayu saat dihubungi detikcom, Kamis (28/10/2010) bahwa Merapi kembali mengeluarkan erupsi kecil.
Yuni mengatakan, tim evakuasi sudah berhenti sejak melihat ada tanda-tanda lahar Gunung Merapi merapi akan turun. Hingga pukul 17.30 WIB, lahar Gunung Merapi sudah turun hingga 3 KM.
(ape/ape)











































