Lesmiyatun melahirkan Rabu malam di perjalanan. Sebenarnya Lesmiyatun sudah mengungsi ke SMPN 1 Kemalang, bersama suami dan anak pertamanya pada Selasa malam lalu saat Merapi menyeburkan awan panas dan hujan abu. Rumah Lesmiyatun tak luput dari guyuran hujan abu tersebut.
Namun Rabu sore, dalam kondisi hamil tua Lesmiyatun bersama suami dan beberapa kerabat kembali naik ke pemukimannya mengendarai mobil karena harus menghadiri acara pernikahan yang digelar salah seorang warga. Acara pernikahan itupun terpaksa tetap digelar karena sudah direncanakan jauh-jauh hari.
"Selain itu saya juga berkepentingan untuk menata dagangan di warung kecil milik kami. Kami harus menata-nata dagangan karena saat mengungsi, tidak sempat menutup pintu dengan rapat serta banyak dagangan yang masih belum tertata," papar Lesmiyatun, Kamis (28/10/2010).
Namun Rabun malam sekitar pukul 20.30 WIB, Lesmiyatun merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dia lalu mengajak Surip, suaminya, segera turun dengan tujuan ke Puskesmas Kemalang agar persalinan bisa dibantu oleh bidan yang bersiaga di tempat tersebut. Puskesmas Kemalang hanya berseberangan jalan dengan gedung SMPN 1 Kemalang yang dijadikan pos pengungsian.
Bersama suami dan beberapa kerabat, Lesmiyatun langsung turun. Namun di tengah perjalanan, bayi tersebut telah lahir dengan selamat. Proses persalinan berjalan lancar dan hanya dibantu beberapa kerabat yang seperjalanan dengan Lesmiyatun. Sesampai di lokasi pengungsian, Lesmiyatun dan bayinya langsung dirawat di Puskesmas Kemalang.
"Anak kami lahir di dalam mobil saat perjalanan kembali ke lokasi pengungsian. Alhamdulillah ibu dan anaknya selamat. Bayinya laki-laki, namun hingga saat ini kami belum menyiapkan nama untuknya," ujar Surip, ayah bayi, saat ditemui sedang menunggui istri dan bayinya di Puskesmas Kemalang.
(djo/djo)











































