"Kebijakan pemakaian BBG untuk busway tak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menteri BUMN tak tergerak memerintahkan kepada PGN dan Pertamina untuk memberi layanan khusus pasok gas untuk busway," ujar Koordinator Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin.
Hal itu disampaikan Ahmad dalam media trip tentang busway dan BBG di kantor operator bus TransJakarta PT Trans Batavia (TB), Jl Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur, Rabu (27/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Sales Representatif Produk Gas dan Industri LPG Pertamina Anggora Dini menyatakan Pertamina awalnya memiliki 14 SPBG di seluruh Jakarta. Kini hanya tinggal 6 SPBG yang beroperasi.
"8 Dialihfungsikan karena tidak ekonomis," kata Dini yang ditemui di Jalan Pemuda.
6 SPBG itu berada antara lain di Jalan Pemuda, Gandaria, Jalan Raya Pasar Minggu, Jalan Daan Mogot. Sementara masih ada 2 SPBG dalam proses revitalisasi, yaitu di Jalan Margonda.
Di SPBG Jalan Pemuda sendiri, sehari-harinya melayani pengisian BBG untuk bus TransJ dan kendaraan angkutan umum lain seperti taksi, bajaj dan mikrolet.
Ada 3 dispenser yang masing-masing memiliki 2 selang. Menurut pengelola Yusuf Dahasan, 4 selang digunakan melayani bus TransJ 5 koridor (II, IV, V, VI) dan 2 selang lain untuk angkutan umum.
Rata-rata ada 160 bus TransJ per hari yang dilayani. Biasanya, bus TransJ itu mulai antre pukul 04.00 pagi dan masuk kembali untuk isi pukul 13.00-14.00 WIB.
Volume SPBG milik Yusuf per hari rata-rata 30-38 ribu liter setara premium (LSP). Rata-rata per operator mengambil BBG per 20 hari sebesar 12 ribu - 13 ribu LSP.
"Pembayaran BBG dilakukan per 20 hari, Rp 350 juta per operator," kata dia.
Harga gas di SPBG Pertamina Pemuda ini adalah Rp 2.562/LSP.
Antusias kendaraan angkutan umum mengisi BBG di SPBG itu membuat antrean panjang. Salah satu sopir bajaj, Jarmadi (38) mengatakan dengan memakai gas kendaraannya jadi lebih irit dan tidak berisik.
"Kata penumpang juga begitU. Ini lebih irit sih, kalau mengisi gas, kalau kepepet ya dipindah lagi diisi bensin. Biasanya saya 2 kali isi sehari, bisa di Pemuda dan Pancoran," jelasnya.
Perbandingan buat Jarmadi adalah harga premium yang mencapai Rp 4.500 per liter.
Perbedaan Harga
Sementara Direktur Operasional PT Trans Batavia (operator Koridor II dan III) Jabes Sihombing meminta pemerintah mengatasi perbedaan harga gas yang dijual SPBG Pertamina dan SPBG swasta.
"Saya minta kebijakan harga kebijakan tegas dari Pemerintah untuk menalangi perbedaan harga. Sebaiknya harga gas dibuat satu harga saja," jelasnya.
Seperti ditulis sebelumnya, 2 SPBG yang melayani bus TransJ PT TB tutup karena ada masalah dengan PGN. Petross, yang mengelola SPBG itu menutup SPBG-nya sejak April 2010 karena ada masalah administrasi dengan PGN dan perbedaan harga jual BBG yang belum disepakati.
Tak seperti SPBG Pertamina, Petross membeli gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) yang dipasok dari Pertamina EP dalam USD. Jika SPBG Pertamina bisa menjual harga BBG ke konsumen seharga Rp 2.562/LSP, maka PGN menjual BBG ke SPBG sejak April 2010 menjadi Rp 2.200/LSP.
Direktur Petross Robbi R Sukardi mengatakan jika pihaknya menginginkan marjin Rp 800/LSP maka dia harus menjual BBG ke konsumen seharga Rp 3.000/LSP.
Perbedaan harga Rp 2.562 dan Rp 3.000 ini lah yang terjadi sekarang. Robbi meminta menyeragamkan harga gas itu.
"Win-win solution-lah. Kami SPBG mau mengalah di angka Rp 3.000 daru Rp 3.600. Supaya BLU TransJakarta bisa mengisi dan SPBG bisa hidup," ujar Robbi yang merumahkan 100 karyawannya sejak April lalu.
(nwk/nrl)










































